Usfuriyah Hadits kedua (2)

Masih di kalantur.com !!! pingin pinter tapi mager !!!!.

Kawanku klanters semuanya, sampailah kita di hadits yang kedua dalam kitab usfuriyah ta’lif by A-syaikh muhammad ibn abu bakr. Hadits kedua ini “gue banget” karena membincang pendosa, bukannya bangga akan dosa saya, tetapi sekedar menyadari akan dosa-dosa yang semoga diampuni oleh yang maha pengampun. Amin!!!

Let’s go to the second hadits:

عن ابن مسعود رضي الله تعالى عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : الفاجر الراجي رحمة الله تعالى أقرب إلى الله تعالى من العابد المقنط.

Dari ibnu mas’ud RA berkata : Rasululloh SAW bersabda : Pendosa yang mengharap rahmat Allah lebih dekat kepada Allah ta’ala daripada ahli ibadah yang memutus rahmat.

Seumpama ada ahli ibadah (‘abid) yang mengandalkan amal ibadahnya dan bersandar pada dirinya sendiri —merasa hebat dengan amalnya— tanpa melihat bahwa itu rahmat Allah, lantas orang itu melihat ahli maksiat dan mencibirnya hingga ahli maksiat tersebut merasa insecure, maka ahli ibadah tersebut justru yang tidak mendapat ridho dari Allah. Jangan cibir aku yaa, atau kalian tahu akibatnya!.

Amar ma’ruf nahi munkar itu memang harus senantiasa dilakukan, namun sampaikanlah dengan bahasa yang santun. Sesantun mba-mba teller bank yang sedang melayani nasabah, UwU!

Hikayat 1

Dalam sebuauh riwayat dari Sahabat Umar: zaman dahulu ada seorang laki-laki ahli “banget” ibadah dan merasa sudah paling WoW dalam peribadahannya. Namun sayang seribu cinta, ia memutus banyak cinta para pendosa kepada Tuhannya —Allah tuhan kita semua. Kemudian ia mati, lantas ia bertanya “Ya Allah, apa yang engkau siapkan untukku?”, Allah menjawab “Neraka untukmu” lalu ia protes “lalu untuk apa ibadahku selama di dunia wahai tuhanku?” lalu kata Allah “engkau selama hidup memutus banyak manusia dari cinta-Ku (bac:rahmat-Ku), maka hari ini kupangkas cinta-Ku untukmu !!!”.

Dalam Sebuah Hadits riwayat Abu Hurairah ra : Ada seorang lelaki sama sekali tak pernah melakukan amal kebajikan, kecuali hanya —amal— Tauhid (Meng-Esa-kan Allah). Ketika merasa ajalnya sudah dekat, ia berpesan pada keluarganya: “ketika aku mati bakarlah jasadku, kemudian buanglah ke samudera abu dari jasadku bersama hembusan angin. Keluarganya meng-iyakan wasiat tersebut, dan benar dilakukan ketika ia meninggal. Singkat cerita setelah ia meninggal, dengan kekuasaan Allah, dipanggillah ia dan Allah bertanya ” dengan maksud dan tujuan apa kau berbuat seperti itu (perihal membakar jasad dan mengaburkannya kelaut) ” lalu lelaki itu menjawab “sungguh aku takut dan malu kepadamu” lalu Allah mengampuninya karena ternyata ia perbuatannya itu karena perasaan malu dan takutnya untuk menghadap Allah SWT.

Hikayat 2

Sebuah hikayat juga menceritakan, dahulu kala pada zamannya nabi Musa AS ada seorang laki-laki (lagi dan lagi, selalu lelaki) meninggal dunia. Karena fasiknya dia tiada yang mau mengurus jenazahnya, akhirnya dibuanglah jenazah lelaki tersebut ke tempat pembuangan kotoran dan sampah. Lalu Allah mewahyukan kepada Nabi Musa untuk mencari jenazah orang tersebut untuk mengurusnya.

Berangkatlah Nabi Musa sesuai petunjuk dari Allah, dalam perjalanan bertemu dengan salah seorang penduduk desa yang mengtahui kejadian tersebut. Nabi Musa meminta untuk di antarkan, sesuai pesanan, si fulan mengantarkan Nabi musa menuju keberadaan jenazah, lalu meminta orang-orang untuk mengurusnya. Karena ternyata jenazah itu adalah kekasih Allah.

Nabi Musa sesuai wahyu yang di sampaikan melalui Malaikat jibril menjelaskan kepada semua orang yang terheran-heran. Bagaimana bisa orang fasik itu ternyata adalah kekasih Allah. Ternyata sebelum meninggal ia berdo’a :

“Wahai Tuhanku! Sekiranya Engkau memberi ampunan dan mengampuni dosa-dosaku niscaya wali-wali-Mu dan Nabi-Nabi-Mu akan bahagia, dan syaithan musuhku dan musuh-Mu akan bersedih. Namun sekiranya Engkau menyiksaku lantaran dosa-dosaku niscaya syaithan dan pasukannya akan bahagia dan para Nabi dan para wali akan bersedih, sesungguhnya aku tahu bahwa membabahagiakan para wali lebih Engkau cintai daripada membahagiakan syaithan dan pasukannya, maka ampunilah aku. Ya Allah! Sesungguhnya Engkau lebih mengetahui daripada aku terhadap apa yang aku ucapkan, maka sayangilah aku dan ampunilah aku.”


Allah Ta’ala berfirman; “Lantas Aku menyayanginya, mengampuni dan membebaskannya. Sesungguhnya Aku Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, lebih-lebih kepada orang yang mengakui dosa-dosanya di hadapan-Ku. Dan laki-laki ini telah mengakui dosa-dosanya, maka Aku mengampuni dan membebaskannya. Wahai Musa! Laksanakanlah apa yang telah Aku perintahkan karena sesungguhnya Aku akan mengampuni orang yang menshalati dan mengkubur janazahnya berkat kemuliaannya”.

Maka Allah mengampuninya atas dosa-dosa yang telah ia perbuat. Demikian semoga dapat di ambil pelajaran dan dapat di amalkan. Ambillah yang baik tinggalkan yang buruk, atau tinggalkan yang buruk dan ambil yang baik dan ternyata sama saja, sekian. Wassalam.

Akhnan

Calon Presiden yang hobi nulis, sekaligus calon menantu dari calon mertuaku yang entah dimana berada