Usfuriyah Hadits ke-3 (Tiga) ; Tuhan dan Orang Tua

Hello Sobat Klanters ! kembali lagi kita akan membahas kitab klasik, Mauidzah Usfuriyah. Kali ini kita sudah sampai pada hadits yang ke-3 dengan topic bahasan adalah adab kepada orang tua. Emh,,, bagaimana sih seharusnya adab kita kepadda orang tua sesuai dengan hadits ketiga ini ? langsung saja yuh,,,

Baca juga : Usfuriyah Hadits Ke-1 (Satu)

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِنَّ اللهَ تَعَالَى يَنْظُرُ إِلَى وَجْهِ الشَّيْخِ صَبَاحًا وَمَسَاءً وَيَقُوْلُ يَا عَبْدِيْ قَدْ كَبُرَ سِنُّكَ وَرَقَّ جِلْدُكَ وَدَقَّ عَظمُكَ وَاقْتَرَبَ أَجَلُكَ وَحَانَ قُدُوْمُكَ إِلَيَّ فَاسْتَحْيِ مِنِّيْ فَأَنَا أَسْتَحْيِ مِنْ شَيْبَتِكَ أَنْ أُعَذِّبَكَ فِى النَّارِ .

Dari Anas bin Malik radliyallahu ‘anhu ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda; “Sesungguhnya Allah Ta’ala memandang wajah orang tua setiap pagi dan petang dan berfirman; Wahai hamba-Ku! Usiamu telah tua, kulitmu telah keriput, tulang-tulangmu telah rapuh dan masa kehadiranmu kehadapan-Ku telah dekat maka merasa malulah kepada-Ku, karena sesungguhnya Aku merasa malu lantaran usia tuamu untuk menyiksamu dalam neraka”.

Nah sobat klanters, dari hadits di atas, kita bisa mengambil pelajaran yang sangat penting melalui sebuah percakapan singkat antara Tuhan, Allah, dengan hambanya yang sudah tua. “Wahai hamba-Ku! Usiamu telah tua, kulitmu telah keriput, tulang-tulangmu telah rapuh dan masa kehadiranmu kehadapan-Ku telah dekat maka merasa malulah kepada-Ku, karena sesungguhnya Aku merasa malu lantaran usia tuamu untuk menyiksamu dalam neraka”.

Dari percakapan tersebut, kita bisa mengambil dua pelajaran yang sangat penting. Pertama, bahwa Allah menganjurkan kepada seorang yang telah memasuki usia senja, untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Hal ini bisa kita takwilkan dari kalimat “…..malulah kepada-Ku….”

Orang yang sudah tua, secara nalar, memiliki jangka usia yang lebih pendek jika dibandingkan dengan mereka yang masih berusia muda. Oleh sebab itulah, Allah, melalui hadits ini, memberikan sebuah peringatan kepada manusia-manusia senja – tua, agar merasa malu jika tidak taat kepada-Nya.

Kedua, kepada yang masih muda, Allah memberikan perintah untuk senantiasa memulyakan orang-orang tua. Bahkan dalam hal ini, Allah langsung mencontohkannya. Dapat kita lihat dari kalimat “…sesungguhnya Aku merasa malu lantaran usia tuamu untuk menyiksamu dalam neraka”.

Dilihat dari segi adab dan akhlak, jelas, bahwa anak muda haruslah menghormati serta memulyakan orang yang lebih tua darinya. Tak terkecuali bahwa dia seorang yang taat ataupun tidak. Bahkan jika orang tua tersebut bukanlah seorang muslim.

Dalam kitab ini dikisahkan, suatu ketika sayyidina ‘Aliy ra pergi ke masjid dengan tergesa-gesa hendak melaksanakan shalat shubuh secara berjama’ah. Di tengah perjalanan dia berjumpa dengan seorang kakek yang berjalan di depannya dengan tenang dan lamban. Meski demikian, Sayyidina Ali tidak mendahuluinya sebab memuliakan dan mengagungkan shifat tuanya, hingga masuk waktu terbitnya matahari.

Ketika sampai di depan pintu masjid, ternyata kakek tersebut tidak masuk ke dalam masjid. Barulah sayyidina ‘Aliy mengerti bahwa kakek tadi adalah orang nashrani. Lantas dia masuk ke dalam masjid dengan keheranan, sebab menemukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan ruku’ dan memanjangkan ruku’nya se ukuran dua kali ruku’, sehingga Sayyidina ‘Aliy bisa melaksanakan ruku’ bersama Rasulullah SAW.

Usai shalat, sayyidina ‘Aliy ra bertanya ; “Wahai Rasulallah! Mengapa dalam shalat ini tuan memanjang ruku’, padahal tuan tidak pernah melakukan hal seperti in?”. Rasulullah SAW menjawab; “Ketika aku ruku’ dan membaca ‘Subhaana Robbiyal ‘Adziimi’ seperti biasanya, dan ketika aku hendak mengangkat kepalaku, tiba-tiba datanglah malaikat Jibril ‘alaihissalam dan meletakkan sayapnya di punggungku serta menahanku dalam waktu yang cukup lama. Setelah ia mengangkat sayapnya barulah aku mengangkat kepalaku”. Para shahabat bertanya; “Mengapa malaikat Jibril melakukan hal itu?” Rasulullah SAW menjawab; “Aku tidak bertanya kepadanya tentang hal itu”.

Kemudian datanglah malaikat Jibril dan berkata; “Wahai Muhammad ! Sesungguhnya sayyidina ‘Aliy dalam keadaan tergesa-gesa saat menuju shalat berjama’ah. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan kakek nashrani dan dia tidak mengerti bahwa kakek itu adalah orang nashrani. Namun, dia memuliakannya lantaran usianya yang telah tua, tidak mendahuluinya dan menjaga haknya. Lantas Allah Ta’ala memerintahkanku untuk menahanmu dalam keadaan ruku’ hingga sayyidina ‘Aliy menemukan ruku’ shalat shubuh bersamamu. Ini bukanlah hal yang mengherankan, tapi yang lebih mengherankan adalah; Allah Ta’ala memerintahkan malaikat Mika’il untuk menahan  matahari dengan sayapnya hingga matahari tidak terbit dalam waktu yang cukup lama karena sayyidina ‘Aliy ra”.

Mushonif kitab ini, Syeikh Muhammad bin Abu Bakar al Ushfury memberikan penjelasan mengenai kisah tersebut, bahwa ; “Inilah derajat seseorang sebab memuliakan orang yang tua renta, meskipun dia adalah orang nashrani.”

Baca juga : Usfuriyah Hadits Ke-2 (Dua)

Jadi sobat klanters, kepada orang tua siapapun itu, haruslah kita menaruh hormat. Sekalipun orang tersebut bukanlah seorang muslim. Jikalau kita tidak memiliki hubungan keagamaan, setidaknya kita masih punya hubungan kemanusiaan. Bukankah begitu sobat ?

Fine

Santri Tua yang belum kunjung menemukan pasangan hidup

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.