Teman Bicara (Bagian II) – End

Teman Bicara – Bagian II (End)

Aku memberikan modal untuk mereka membeli sebuah ukulele. Mereka akan membayarnya dengan cicilan tanpa bunga setiap kami bertemu di tempat itu, kalau mereka punya uang.

Hal itu kulakukan bukan karena kelebihan uang. Aku ingat betul waktu itu aku harus irit uang makan karena memberikan seperenam gaji pertamaku kepada mereka. Aku hanya malu melihat mereka meminta-minta di depan minimarket. Setidaknya kalau mereka duduk sambil bernyanyi dan memetik ukulele, ada effort yang membuat mereka layak untuk diberi uang.

Tapi sepertinya mereka tidak akan datang. Aku menunggu bukan karena ingin menagih hutang. Aku hanya butuh teman bicara. Berbincang dengan mereka membuatku seperti seorang kakak sungguhan. Mereka memang seusia adik perempuanku. Tapi mereka lebih mau mendengar daripada adikku yang “batu” itu. Ah, aku rindu mereka.

Seorang temanku yang kuhubungi beberapa jam lalu sudah tiba. Ia tidak turun dari motor dan hanya diam menutup setengah muka dengan kedua telapak tangannya. Seperti bocah yang main petak umpet saja.

Baca Juga : Teman Bicara – Bagian I

Aku memicingkan kedua mata. Seolah-olah dapat membantu memperjelas penglihatanku. Aku takut salah orang. Tapi dari gerak-geriknya, sudah pasti itu dia.

“Ngapain?” kataku menghampirinya.

Ia tertawa. Seperti biasa.

Hari-hariku belakangan memang kurang baik. Terlalu datar. Aku hanya bangun tidur, makan, lalu tidur lagi. Aku sangat menganggur sampai-sampai tak punya alasan untuk bangun pagi.

Di saat-saat putus asa seperti ini. Aku hanya butuh teman bicara. Isi ulang semangat hidup agar kembali sadar bahwa aku bisa lebih berguna. Akhirnya aku keluar dari cangkangku yang “terlalu” nyaman.

Bertemu dengan temanku yang satu ini, memang hampir tak pernah hanya menjadi pertemun yang biasa. Kalau bukan harapan, pasti selalu ada “cuan”. Memangnya apa lagi yang bisa membuat kita bertahan?

Berjam-jam kami bertiga. Duduk santai di kedai yang tak jauh dari minimarket tempatku nongkrong tadi. Seperti kataku, muncul sebuah kesepakatan untuk membuat lubang uang.

Jangan marah kalau kau sudah sampai di paragraf ini. Aku sungguh tak bermaksud membuang waktumu yang berharga untuk sekedar membaca cerita tak bergenre ini.

Kalau tadi belum sampai, biar langsung saja kucekoki inti pesan moral yang ingin kutitipkan lewat tulisan ini.

“Kalau benar-benar putus asa, carilah teman bicara”

Itu saja.

Oleh : Flavia

303 thoughts on “Teman Bicara (Bagian II) – End

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.