Teman Bicara (Bagian I)

Teman Bicara – Bagian I

Sudah beberapa bulan aku tak kemari. Jalan kaki di tengah gerimis melewati pepohonan yang dulu setiap hari kulalui, bagai De Javu. Waktu terasa melambat. Seseorang berlari kecil ke arahku. Karena masih jauh, di mataku ia seperti gambar blur di tv zaman dulu. Yang terlihat hanya atasannya yang berwarna biru, celana pendek berwarna hitam, serta rambut pirangnya yang diikat satu. Ah, penglihatanku memburuk rupanya.

“Siapa itu?” tanyaku dalam hati.

Aku masih saja takut berpapasan atau bertemu orang asing di jalanan. Dua kali aku mengalami kejadian buruk di daerah ini. Yang pertama hampir dihipnotis, yang kedua digandeng orang gila. Keduanya cukup membuat trauma, yang masih belum kutahu cara mengobatinya.

Perempuan itu semakin dekat. Rupanya ia bule yang sedang lari sore. Entah kenapa aku merasa aman. Mungkin terdengar tidak masuk akal. Tapi masyarakat lokal menurutku lebih berbahaya daripada orang-orang bertampang seperti pendatang dari luar negeri. Setidaknya mereka tidak akan menjambret apalagi menghipnotis. Entah atas dasar apa pemikiran seperti itu.

Aku masuk ke sebuah minimarket. Mereka menyapa seperti biasa. Lama aku berdiri di depan lemari minuman. Menatap deretan kaleng minuman keras yang katanya mengandung nol persen alkohol. Ingin kuambil tapi tak berani. Akhirnya tanganku meraih sebotol green tea.

“Lain kali saja,” kataku dalam hati.

Ini bukan yang pertama kali. Setiap melihat rekan kerjaku minum anggur merah, aku ingin mencobanya. Setiap melihat orang-orang di drama Korea minum soju, aku ingin mencobanya.

Tapi ilmu menahan diri yang secara alami melekat pada diriku masih tangguh sejauh ini. Untunglah.

Setelah membayar minuman dan beberapa belanjaan lainnya, aku nongkrong di depan minimarket itu. Aku menunggu. Tapi tak tahu siapa yang kutunggu. Jelas seseorang akan datang. Seseorang yang bisa diajak bicara.

Langit sore yang tadinya orange, putih, biru, dan abu-abu, kini sepenuhnya gelap. Bintang dan bulan tidak kelihatan. Sudah sejam aku duduk di sini. Kugulir layar telepon genggam, memastikan hari, tanggal, dan jam saat ini.

“Sejak kapan banyak bule di daerah ini?” aku berbicara sendiri.

Mereka lalu lalang di depanku. Banyak yang berkulit putih kemerah-merahan. Padahal sebelumnya lebih banyak orang-orang berkulit hitam, yang kemungkinan adalah pengelola atau penghuni hotel baru di seberang tempat tinggalku yang lama.

Dari beberapa bule itu, tak ada satupun yang masih muda. Semuanya terlihat seusia atau lebih tua dari ibuku. Aku jadi teringat pesan tetanggaku sewaktu aku berangkat merantau.

“Nikah sama bule aja nanti di sana,” katanya sambil cekikikan waktu itu.

Aku mengamininya. Lumayan kan, memperbaiki keturunan. Tapi sudah 4 tahun aku di sini, sepertinya tidak akan mudah. Pergaulanku tidak mendukung untuk mengabulkan harapan itu. Kalau bertemu dengan cara seperti ini, untuk menyapa saja aku tak punya nyali. Takut dianggap SKSD nanti. (Note: SKSD = sok kenal sok dekat).

“Kak Flavia!” seseorang mengaburkan lamunanku.

Aku melihatnya melambaikan tangan. Tapi lagi-lagi, terlalu blur untuk dikenali.

“Hai!” balasku ragu-ragu.

Ia mendekat.

“Ngapain disini, Kak?” tanyanya.

Setelah ia benar-benar di depanku barulah aku berani tersenyum lebar. Kami berkenalan beberapa bulan lalu di sebuah acara seni. Ia dua tingkat di bawahku dan sekarang menjadi anggota organisasi yang pernah kuikuti.

Ada satu orang lagi yang datang bersamanya. Laki-laki berkacamata. Mudah-mudahan ia tidak tersinggung. Tapi aku benar-benar tidak ingat namanya. Payah betul memang aku ini. Sudah rabun, pikun pula. Butuh beberapa kali bertemu agar aku ingat nama orang lain. Aku lebih mudah mengingat wajah, isi perbincangan, dan tempat kami bertemu daripada nama seseorang.

Sekitar setengah jam mereka di sana, kami lebih banyak membicarakan organisasi sebelum akhirnya mereka pamit pergi. Habisnya tak tahu mau membincangkan apa lagi. Aku tersenyum bangga.

“Benar feeling-ku,” kataku dalam hati.

Aku juga tidak mengerti bagaimana bisa seyakin itu kalau seseorang akan datang. Konon kalau tidak sekolah kata ibuku aku memang berpotensi jadi cenayang. Tentu saja aku tidak percaya.

Karena tak ada lagi teman bicara, aku melamun lagi.

“Dimana mereka?” pikirku.

Mereka yang kumaksud adalah sekelompok anak usia 15-an yang penampilannya seolah lebih dewasa dariku. Sehari sebelum kepindahanku ke daerah lain, kami menjalin kerjasama tak tertulis.

to be continue…..

Oleh : Flavia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.