Shopee dan Tokopedia, Saingan Atau Kawan?

Hai kaka (kawan klanters), kali ini saya akan membahas sebuah simbiosis-perbelanjaan. Gak begitu penting sih, tapi ini menarik bagi otak ngelantur saya.

Shopee dan tokopedia sudah bagaikan indomart dan alfamart, pernah saya berfikir bahwa pemilik brand mart x (alfa + indo) itu mungkin kakak beradik atau putra/i yang terpisah dan dipertemukan kembali layaknya sinetron ditelevisi cap ikan terbang yang sering ibu dan kita tonton. meskipun dalam dua menit pertama sinetron dimulai kita sudah bisa menebak alur ceritanya yang memang itu-itu saja. Namun tetap saja kita menontonnya sampai mbedegel bersama Ibu kita tercinta.

Okay, tidak akan saya bahas lebih lanjut mengenai alfa-indo dan sinetron penuh tangisnya, karena pembahasannya akan rumit. ~serumit hubungan antara Uzumaki binomo dan Uciha Roy yang belum jelas mereka terlahir darimana

Kembali ke shopee dan tokopedia, dua raksasa perbelanjaan retail di indonesia. Satu berwarna orange dan satunya berwarna hijau —tanpa bintang sembilan dan bola dunia tentunya. Dua brand ini tentu tidak asing bagi kawan klanters, dengan banyaknya iklan yang kerap kali muncul di layar televisi maupun di layar sentuh HandPhone kita. Mulai dari gratis ongkir sampai gratis mikir, karena pingin beli tapi bokir, pingin pinter tapi mager. ~susah!

Dua Brand ini terus bersaing layaknya Sasuke dan Naruto. Disinilah konspirasi dimulai, “tiada rivalitas tanpa kedekatan” mungkin sebuah kalimat yang cocok untuk menggambarkan betapa pertemanan tidak harus saling memuji, saling menjerumuskan, saling merepotkan, dan saling komen di Instagram “cantik banget beb” trus dijawab “lebih cantik yang komen dong” disambung penjual obat peninggi “tumbuh 0,5 per semester? Cek story kami kak” dan nyatanya itu semua benar. Belajar dari naruto dan sasuke, might guy dan hatake kakashi, mereka adalah rival sejati atau dalam literatur syariah Fastabiqul khoirot (berlomba-lomba) dalam kebaikan. Masih kuat? Oke lanjut!

Daihatsu dan Toyota, apakah mereka bersaing? Mungkin terlihat “iya” namun nyatanya mereka punya segmentasi pasar masing-masing. Begitu juga dengan Shopee dan Tokopedia. Teori politisnya seperti ini —jiaaah!. Bayangkan klanters nyalon Kepala Desa dan tentunya memiliki saingan, bayangkan satu saingan saja. Cara tebaik untuk memenangkannya adalah memecah suara lawan dengan mendatangkan calon (lawan) baru, dengan catatan pendukungmu sudah pakem alias “ora mencla-mencle”. Suara lawan pecah, suara anda tetap dan klanters punya amunisi untuk mobilisasi masa. ~Paham gak!?!

Katakanlah Tokopedia sudah memiliki pelanggan tetap, dan fungsi shopee adalah untuk membuat gerbong segmentasi pasar baru, atau sebaliknya. Ada berapa marketplace di indonesia saat ini, Banyak bukan? Dengan jumlah sekian banyaknya konsumen, mampukan satu gerbong menampung beraneka golongan yang memiliki standarisasi yang berbeda-beda?. Jawabannya tentu tidak!, semakin banyak gerbong semakin banyak yang dapat diserap. Katakanlah ada kelas ekonomi, bisnis dan eksekutif layaknya dikereta. Keren kan konspirasi nglantur saya!

Lanjut, perlu diketahui seseorang —apalagi cewek— membeli barang bukan dengan rasionalitasnya, namun dengan kedekatan atau mungkin kenyamanan dengan barang atau penjual bahkan mungkin tempat barang tersebut dijual. Ambil contoh dipasar, banyak yang menjual barang yang sama namun terkadang pembeli A lebih prefered untuk membeli suatu barang dipenjual C meski harganya lebih mahal. ~Karena ada suatu hal yang tak bisa dijelaskan dengan logika, sepertihalnya perasaanmu kepadanya yang sebenarnya menurutmu gak cantik-cantik amat, tapi kamu suka!

Dan bukti terakhir yang membuat saya yakin, tokped dan shopee tidak bersaing, melainkan saudara sepenguatan dimana mereka punya segmentasi konsumen yang berbeda-beda untuk saling mendukung, adalah:

Lihatlah iklan di televisi akhir-akhir ini, shopee ber-iklan dengan tentunya warna orange (baca:oranye) dengan tokoh utama Om Tukul Arwana dengan penari yang bikin galfok (gagal fokus), yang entah gimana caranya bisa menari dengan tanpa patahan seperti itu. Disusul oleh tokopedia dengan iklan yang diramaikan oleh teman-teman si Unyil meski tanpa si Unyil, namun jelas memiliki gestur boneka yang sama dengan Unyil dkk. ~sayayakinitu teman si unyil!

Jika kawan klanters belum paham, saya jelaskan. Apa persamaan atau garis merah antara Om Tukul yang terkenal dengan Empat Mata-nya dengan Si-Unyil teman usro’ ?

Trans 7? Yaa gak salah seeh,, tapi bukan itu. Dan yhaa betul sekali, penghubungnya adalah “Laptop” akhirnya konspirasi sekarang terpecahkan. Om Tukul Arwana Empat mata yang kembali ke Laptop Si Unyil. Si Orange dengan segmentasi konsumennya para muda-mudi dengan produk murah meriah. Si Hijau dengan segmentasi konsumennya adalah bunda-bunda yang sikecilnya mulai aktif bergerak. Terbukti kan? , Manthap Djiwa!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.