Sekolah Itu Candu !

Judul Buku          : Sekolah Itu Candu

Penulis                 : Roem Topatimasang

Penerbit              : INSISTPress

Edisi                       : Juli 2010

Tebal Buku          : XX+ 178 Halaman

Libur telah tiba… Libur telah tiba, hati ku gembira –bacanya jangan sambil nyanyi yups.

Happy Weekend Klanters!!! Sedang apa kalian hari ini?,  apakah kalian menyambut gembira libur mingguannya? –Wohoo… bagi orang orang yang mager –an  (Baca: Kayak ‘aku’),  pasti daftar list hari Minggu cuman diisi rebahan, rebahan lagi, rebahan terusssssampek SUKSES.

Semoga kalian tak sama dengan ku ya… ets tapi tenang untuk yang mager –an kayak aku ada rekomen nih buat kalian agar Magermu berfaedah, Gimana caranya ?

Gampang sekali, tinggal Klanters pegang HP buka Browser dan ketik dalam penelurusan (Kalantur.com) klik OK. Dijamin dah… liburan mu agak (Baca: dikit) bermanfaat –Hewhew Numpang Nge-Up Website dikitlah.

Sudah ya Basa Basinya Klanters !!!

Oh ya biar liburnya bermanfaat, kali ini Kalantur.com akan membahas tentang Sekolah.

Apa sih Sekolah itu? Kenapa kita harus Sekolah ?

Woho… Siapa yang sering dapat wejangan kalau mau sekolah

“Nak… Kamu harus Sekolah yang rajin ya, Sekolah yang pintar, Sekolah yang tinggi, Biar masa depan mu terarah dan bagus, jangan kayak Bapak Ibu yang cuman buruh (baca: pekerja biasa) yang hidupnya pas pas-an gini “

Nampaknya hampir semua orang tua pasti akan mengatakan hal yang serupa, Sekolah seakan menjadi wadah untuk mencari Ilmu yang diharapkan dapat mengentaskan anak anaknya dari lingkar kebodohan dan menghindarkan dari kehidupan ekonomi yang pas-pasan (baca:kurang).

Tapi apakah hanya sekolah yang menjamin itu semua? dan apakah sekolah bisa menjamin itu semua?

Pertanyaan tersebut  muncul, setiap kali aku menuruti (baca: dipaksa nurut) sistem sekolah yang kadang membuatku sambat—ngeluh— sendiri. Bagaimana mungkin saat aku keluar dari dunia Sekolah-an aku bisa mengaplikasikan seluruh materi baik yang bersifat teori maupun rumus ?, sedangkan –Aku sudah kuwalahan setiap kali menerima pelajaran yang menurutku seperti dijujusistem dari mulai target mata pelajaran perhari, waktu sekolah dengan estimasi yang cukup panjang sekitar 8 jam, dan lebih parahnya masih dipaksa untuk mengerjakan PR yang menyita jam rebahanku, sungguh melelahkan bukan ?.

Lantas apakah yang di maksud dengan Sekolah yang sebenarnya?

Dengan gaya bahasa yang santai, acak acakan dan menggelitik (baca: lucu), di tambah dengan beberapa gambar ilustrasi, yang dapat membawa si pembaca larut membayangkan kedalam hiruk pikuk dunia Sekolah-an. Roem Topatimasang berhasil membuatku sedikit lega –banyak candanya. saat membaca buku kunci jawaban yang tercatat dalam 14 bagian perihal ke-muak-an ku menuruti sistem sekolah. Buku itu berjudul “ Sekolah itu Candu”.

Dalam bab pertama kita diajak untuk mengulik sejarah tentang asal muasal kata sekolah. Dalam buku Roem menjelaskan bahwa kata “Sekolah” Konon Katanya berasal dari Yunani Kuno yakni  dari kata  skholescolascolae  atau schola (Latin),  kata  itu secara  harfiah  berarti  ‘waktu  luang’  atau ‘waktu  senggang’. Dimana dalam hal ini dulunya bangsa Yunani Kuno sering memanfaatkan waktu luang untuk berkunjung ke beberapa tempat yang notabene mereka dapat mengetahui tentang —mempelajari—sesuatu di tempat tersebut, dengan kata lain menggunakan waktu luang untuk mempelajari sesuatu.

Lambat laun seiring dengan perkembangan jaman sekolah menjelma menjadi sebuah lembaga pendidikan yang menyita banyak sekali waktu luang untuk belajar. Ya benar sekali situasi tersebut nyata adanya,  seperti apa yang aku, kamu, dan dia rasakan saat ini, terjebak oleh rasa yang membingungkan, kita dipaksa untuk seharian —fullday— sekolah. Bayangkan saja, sejak dini minimal usia 4 tahun sudah masuk TK, kemudian SD hingga SMA setidaknya 12 Tahun waktu kita habis untuk Sekolah —bukannya belajar malah jadi bucin, hadeh!.

Dan lebih konyolnya lagi, Sekolah yang bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan Bangsa, malah membuat sistem yang semuanya dan segala galanya seragam…

“… dan inilah yang lebih membuat saya pusing tujuh keliling : Pakaian Seragam, mata pelajaran seragam, bahasa dan cara bicara seragam, tingkah laku seragam, lama-kelamaan wajib seragam pula isi kepala atau bahkan isi hati mereka !”

Roem Topatimasang

Begitulah ungkapan kekhawatiran Roem, Sekolah menjelma menjadi sebuah perusahaan yang setiap unitnya menghasilkan banyak keuntungan –Bayangkan saja berapa rupiah yang dapat diraub untung oleh pengusaha yang mengelola seragam sekolah atau buku sekolah, menjanjikan bukan.

Ditambah lagi penarikan uang pangkal di sekolah,beruntunglah kita menjadi Warga Negara Indonesia yang saat ini sudah bebas SPP –ingat, hanya bagi sekolah Negeri ya dari SD hingga SMA sederajat, terimakasih lho ini. Akan tetapi masih saja dan tetap saja ada lho penarikan uang pangkal di berbagai sekolah Negeri dengan embel embel untuk menunjang keperluan sekolah –semoga benar adanya ya untuk keperluan tersebut.

Gimana Klanters, sungguh mulia bukan?

Senyatanya dan sejujur jujurnya Indonesia Raya Merdeka Harga Mati ini sangat amat kaya sekali, tapi sayang beribu ribu sayang banyak Lintah berdasi yang main cerobot sana cerobot sini habis deh uang –Kita, ngeri saking canggihnya mesin birokrasi, kasusnya sampai susah sekali diseret dalam meja hijau (peradilan) –mantab jiwa goodluck Birokrasiku.

Wohoo la gimana gak susah di seret di meja Hijau, Sistem sekolah saja di buat muyer muyer njlimet gak karuan rasanya, banyak sekali para adminitrator sekolah yang salah urus berkas adminitrasi la wong saben tahun saja formulir datang silih berganti, formulir lama yang baru saja mereka kuasai formulir baru sudah hadir mengganti –jadi jangan salahkan jika banyak penggelapan dana disana sini ya Klanters.

Lalu bagaimana sejatinya bentuk sekolah yang di harapkan ?

Dalam Catatannya bagian 8 Robohnya Sekolah Rakyat Kami, Roem membagikan cerita terkait bentuk sekolah Rakyat dulu yang ada di Indonesia, lebih tepatnya di tapal batas provinsi Sulawesi Selatan. Dikisahkan bahwa dengan kondisi bangunan sekolah yang ala kadarnya , pasokan guru yang seadanya, anak anak belajar  dengan riang gembira disana. Setiap Hari Sabtu adalah hari krida sekolah, semua murid bebas dari kegiatan belajar mengajar dan hanya separuh jadwal. Kegiatan tersebut dipusatkan untuk kerja bakti membersihkan halaman dan kebun di sekolah.

Tak hanya itu, setiap empat bulan sekali sekolah terebut juga membuat event yang dilaksanakan setelah ulangan umum yaitu kegiatan kerja bakti membenarkan gubuk Sekolah. Dari mencari bahan seperti mengumpulkan kayu, pelepah daun sagu hingga upaya pembangunan dan pembenaran gedung semua dilakukan bersama sama oleh seluruh lapisan warga sekolah dari mulai guru hingga murid ( tentunya ditakar sesuai dengan kapasitas dan kemampuan murid).

Pada saat panen Raya tiba, Tiap enam bulan sekali lebih tepatnya para murid libur sepekan penuh –wuiihhh mantap kali. Ets tapi disini bukan berarti untuk malas malasan ya Klanters, anak anak disana diarahkan oleh para guru untuk membantu para penduduk memanen hasil ladang dan sawah, bagi hasil yang diperoleh sepenuhnya diperuntukkan untuk murid itu sendiri , sekolah hanya menerima sebagian kecil dari sumbangan sukarela dari setiap pemilik ladang dan sawah –seru banget, ini baru liburan yang amat sangat bermanfaat sekaleee, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.

Tapi sayangnya sekolah ini sekarang musnah, roboh, hancur, beganti dengan gedung yang sama seperti sekolah yang lain dan dengan sistem yang sama pula.

Pada intinya sekolah sudah tidak berfungsi dengan semestinya, dalam buku di jelaskan bahwa Benjamin Bloom berpendapat sekolah sebagai lembaga pendidikan, pada dasarnya berfungsi menggarap tiga wilayah kepribadian manusia yang disebutnya dengan taksonomi “pendidikan” yaitu membentuk watak dan sikap (Affective domain), pengembangan pengetahuan (Cognitive domain), serta melatih keterampilan (psychomotoric atau conative domain).

Sudah selayaknya dan sepantasnya, jika ingin dianggap sekolah masih hidup layaknya ketiga komponen tersebut haruslah jadi sorotan penting bagi beberapa orang tidak hanya guru sebagai tenaga pendidik namun juga para birokrasi dalam kepemerintahan Indonesia terlebih Menteri Pendidikan harus kuras menguras putar memutar otak untuk menghidupkan kembali makna “Sekolah”agar tidak terkesan hanya mengejar ijazah, menjadikan robot muridnya, menjadikan ajang proyek besar besaran dan yang terpenting sekolah haruslah dapat menfasilitasi segala bakat minat yang dimiliki oleh personal penurus berjuangan bangsa ini –nah semoga tidak ada yang tertolak lagi saat mendaftarkan diri di sekolah ya seperti eko dalam buku “ Sekolah itu Candu”

Ets… peran masyarakat disini juga teramat penting lho, masyarakat juga perlu tau tentang peran sekolah yang sebenarnya biar gak keblinger dan salah mengartikan.

Dan yang perlu jadi tanda kutip “Sekolah bukanlah penentu kesuksesan, sekolah hanya sebagai salah satu alternatif sarana menimba ilmu untuk bekal menuju Kesuksesan (yang di tentukan oleh personal individu masing masing) ”

Wahhh Klanter gimana Klanter !!!, hebat sekali ya Bapak Roem Topatimasang ini, beliau mampu melihat berbagai sisi tentang dunia per- sekolah-an. Dengan melihat kondisi Sekolah saat ini di Indonesia yang sedang terseok seok, dengan prasarana yang tidak menunjang, dengan sistem yang belibet, dengan banyaknya proyek. Apakah kita akan diam saja klanters! Entahlah semua sudah terlalu rumit! Untuk dirubah, good luck bagi klanters yang tergugah hatinya untuk merubah keadaan sekolah !!! –setelah membaca buku “Sekolah Itu Candu”  (baca : review bukunya).

Sampai Jumpa dengan Review buku yang lebih menarik lagi Klanters !!!Happy Weekend ….

Lita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.