Sekapur sirih Al hikam

Halo Klanters yang berbahagia, ~ceilah. Ijinkanlah saya, pada tulisan kali ini memperkenalkan literatur yang sudah teramat sangat populer di kalangan santri khususnya, dan kaum muslimin umumnya, yaitu Al Hikam.

Alhamdulillah kesampaian juga membuat tulisan ini yang rencananya akan berlanjut mengikuti kajian tiap malam kamis. Semoga, doakan saja.

Sebelum mengenal kitab babon sufistik ini, perlu saya utarakan bahwa apa yang akan saya tulis kedepannya adalah hasil kajian bersama. Berdasarkan tafsir beberapa ahli, bukan tafsiran saya sendiri yang tergolong masih santri. Artinya bukan berarti saya menggurui, melainkan hanya sekedar ngaji bareng.

Juga, agar tidak terlalu banyak mengulang penulisan rujukan. Maksudnya, kedepannya ketika penulisan kajian al hikam ini terposting, di dalamnya adalah tafsiran dari setidaknya tiga ahli yang saya pakai sebagai rujukan.

Di antaranya, Matan Al-hikam Syarh Muhammad Sholih Ibn Umar As-samarani (Mbah Soleh Darat), syaikh abdullah asy-Syarqawi Al-khalwati (Mufti Madzhab Syafi’i), dan Buku ulasan Al-Hikam oleh Maftuh Ahnan Labib Mz.

Sedikit Tentang Al Hikam

Kemudian tentang Al hikam, ini adalah salah satu kitab favorit saya, karya Syaikh Ahmad Ibn Athaillah Al-iskandary (nama masyhur beliau). Dianggap sebagai kitab terbaik yang pernah beliau tulis, selain karya-karya lain beliau. Kitab yang masyhur karena semantika bahasanya, dan kedalaman isinya.

Kitab yang tidak terlalu tebal. Karena memang berisi quotes hasil dari perjalananya menjadi salik (perjalanan spiritual seorang murid di bawah bimbingan mursyid menuju Ma’rifat billah).

Berbeda dengan kitabnya yang lain, yang banyak merujuk pada dalil-dalil. Tidak dengan Al hikam, lebih terkesan sebagai syair yang jarang dikuatkan dengan dalil namun maknanya begitu mendalam. Dari segi bahasa bahkan Muhammad Abduh mengatakan “hampir” menyamai kesusasteraan Al-qur’an itu sendiri.

Per-hijrah-annya dari basic intelektualitasnya sebagai seorang Fuqaha (Ahli fiqih) sampai bermuara ke jalan sufisme tasawuf, Beliau berguru kepada Syekh Al-Mursi (Mursyid thareqat Syadzaliyah ke tiga). Thareqat yang masyhur sehingga tidak perlu diragukan ke-Arif-annya.

Apalagi, kitab Al hikam ini tergolong kitab tasawwuf akhlaqi, di mana isinya lebih kepada pendidikan rohani sebagai input, dan outputnya adalah Ikhsan —budi pekerti— yang baik ~kayak klanters yang setia baca. Dalam kitab ini, syekh berusaha mengintegrasikan bagaimana syariat dan haqiqat di-padupadankan menjadi selaras dalam ber-islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Seperti nama kitabnya, Al-hikam yang bermakna kumpulan hikmah. Hikmah artinya sisi baik dari sesuatu. Atau ada pula yang mengartikan hikmah sebagai bijaksana.

Kalau menurut klanters gimana? Hikmah, yang berkerudung merah ~hmm.

Akhnan

Calon Presiden yang hobi nulis, sekaligus calon menantu dari calon mertuaku yang entah dimana berada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.