Review Buku – Balada Cito-Citi 2: Seperti Sabunan, Tresna Harus Dibayar Tuntas

Ada yang masih ingat dengan kisah cinta cito dan citi yang pernah mimin post di review buku sebelumnya ? emh… lupa ya ? oke, singkatnya, novel ‘ra cetho’ yang singkat tersebut berkisah tentang kisah cinta seorang cito yang psikisnya mudah tergores. Jatuh cinta kepada gadis manis nan cantik bernama citi.

Nah sobat klanters. Kali ini, mimin bakal me- review buku balada cito-citi 2 : Seperti Sabunan, Tresna Harus Dibayar Tuntas yang menjadi kisah lanjutan Balada Cito-Citi 1 tersebut.

Pada sekuel kedua ini, Edi Ah Eyubenu, sang penulis masih tetap menyebut buku ini sebagai novel ‘ra cetho’. Entah apa yang mendasarinya. Mungkin karena kisah receh yang mendasarinya atau apa mimin juga nggak faham secara pasti.

Namun klans, sereceh-recehnya kisah yang tertuang dalam novel singkat 144 halaman ini, saat membacanya, kalian akan terasa masuk dan otomatis membayangkan bagaimana kejadian tersebut.

Hal tersebut karena gaya penulisan Edi yang ringan, serta mampu menghipnotis para pembacanya. Kisah-kisah, percakapan, serta pisuhan-pisuhan yang tercantum dalam balada cito-citi 2 ini terasa sangat akrab dalam kehidupan kita. Sehingga dengan mudah, kita akan mampu memahami, membayangkan, dan terkekeh sendiri.

Kendatipun novel ini memiliki genre romantisme yang berbalut komedi, namun tak jarang pula kita mendapatkan pelajaran penting. Mulai dari masalah percintaan, sampai kepada ushul fiqh dan juga tafsir. Dua hal yang disebut terakhir, menurut mimin, menjadi salah satu ciri khas Edi dalam penulisannya. Dirinya sering menggunakan hal-hal sederhana untuk mentransfer pengertian kaidah-kaidah ushul fiqh, maupun perkara keagamaan. Begitu juga yang sering mimin temui di beranda twitternya, @Edi_Akhiles.

Scene yang paling mantap menurut mimin adalah Ketika si penulis yang dalam novel ini juga menjadi salah satu tokohnya, mulai perbincangan dengan bahasan ushul fiqh, tafsir, maupun bahasan keilmuan lain. Di mana dari buku kecil ini pula lah, mimin mengenal ulama bernama Ibnu Asyur, Athabathaba’I, dan banyak lagi.

Keistimewaan

Pada intinya, menurut mimin, sekuel singkat Balada Cito-Citi 1&2, memiliki 3 keistimewaan. Pertama, kisah cinta cito-citi sebagai tokoh utama yang memberikan rasa penasaran tentang bagaimana kelanjutannya. Sehubungan dengan Cito yang terkesan mekso, namun Citi yang juga menyimpan perasaan terhadap Cito, tidak ingin ‘grusah-grusuh’ dan lebih memilih membiarkan perasaannya tumbuh secara natural.

Kedua, komedi-komedi receh yang akrab dengan keseharian yang mampu membuat terkekeh secara tiba-tiba Ketika membacanya. Pisuhan-pisuhan ringan yang ada, semakin membawa mimin masuk ke dalam cerita saat membacanya.

Ketiga, tentu, pelajaran-pelajaran keagamaan yang terselip di dalam buku ini menjadi keistimewaan yang jarang muncul di novel-novel komedi romantic lainnya. Terlebih, pemilihan kaidah dan pemahaman yang nyambung dengan keadaan yang sedang terjadi di dalam cerita, membuat kita yang membacanya manggut-manggut seperti sedang mendengarkan ceramah si penulis, yang juga owner Kafe Mainmain Jogja.

Setelah selesai membaca novel ini, rasanya tidak sabar dengan kelahiran sekuel ketiganya. Karena mimin masih penasaran dengan kelanjutan Cito sebagai ‘wit nongko’ (begitu Edi menyebutnya di dalam novel), akankah ditebang oleh Citi, ataukah diunduh buahnya yang telah matang pohon itu ?. selain itu, mimin sendiri juga penasaran, kira-kira ada kaidah ushul apalagi yang bakal diangkat. Hemh…

Sobat Klanters wajib baca nih buku ! hihi