Petrichor

Mata ini telah terlampau berat untuk terjaga. Namun sedikit saja, aku berharap dapat melihatmu secara nyata. Terlalu lama waktu yang terlewat untuk berkata “sebentar”. Namun terlalu lemah rasanya untuk berkata “aku tidak sabar”.

Aroma basah dari tanah yang terguyur berkah. Membawa halusinasi senyum indah khas bibir tipismu.

Aroma basah dari tanah yang terguyur berkah. Mengarahkan ingatanku ketika tangan kecilmu kugenggam, sementara kaki indahmu menari-nari bersama rumput yang kau jejaki.

Aroma basah dari tanah yang terguyur berkah. Mengingatkanku pada tingkahmu ketika merajuk dengan wajah lucu cantikmu.

Aroma basah dari tanah yang terguyur berkah. Membuatku tersenyum, terngiyang suaramu yang tak mungkin dimiliki orang lain.

Aroma basah dari tanah yang terguyur berkah. Juga menyadarkanku, pada jatuhnya airmatamu ketika aku menyakitimu dan secara langung juga menyakitiku.

Aroma basah dari tanah yang terguyur berkah. Menyadarkanku, kenangan itu takkan terulang, tak ada kesempatan untukku. Kau takkan kembali.

Seperti air yang telah jatuh dari langit ke bumi. Seperti waktu yang takkan berjalan mundur. Sama halnya dengan penyesalanku yang takkan kau percayai.

Petichor, kini aku tau mengapa aroma basah dari tanah yang diguyur berkah memiliki nama yang begitu menakutkan. Ternyata, namamu sesangar rangsangan ingatan yang kau bangkitkan untukku merasakan sesal.

Entah mimpi buruk apa yang akan kau wujudkan ketika mata ini terpejam. Tapi tetap saja kuanggap itu berkah, terimakasih. Petrichor

Akhnan

Calon Presiden yang hobi nulis, sekaligus calon menantu dari calon mertuaku yang entah dimana berada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.