Kisah Pendaki Yang Melanggar Larangan Gunung – Bagian 1

Halo Sobat Klanters ! ada yang suka mendaki gunung ?. kali ini, Kalantur.com akan menceritakan sebuah cerita mistis pendaki gunung. Cerita ini kiriman dari Riski yang berdomisili di Pekalongan. Langsung saja kita simak ceritanya :

Pengalaman ini saya alami 2 tahun silam, tepatnya di tahun 2018. Waktu  saya mendaki salah satu gunung di jawa tengah.

Sebelumnya, perkenalkan nama saya Riski. Saya berasal dari Pekalongan. Di sini saya akan menceritakan pengalaman mistis saya saat mendaki ke gunung Sindoro.

Waktu itu, saya melakukan pendakian bersama 7 teman. Jadi tim kami berjumlah 8 orang, yang terdiri dari 4 laki laki dan 4 perempuan. Di akhir tahun 2018, saya, wahyu, emo, mustofa dan empat teman perempuan yaitu, arfa, pacar saya, jaza, arofah dan dina, melakukan pendakian ke gunung Sindoro.

Pendakian ini sudah lama kami rencanakan. Ini adalah kali kedua bagi saya naik ke Sindoro, dengan jalur yang berbeda.

Setelah hari yang ditentukan tiba, kami berkumpul di rumah Arfa, packing-packing dan mempersiapkan segala keperluan yang dibutuhkan. Kami berangkat sekitar jam 3 sore dengan menggunakan sepeda motor ke wonosobo. Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, sampailah kami di base camp kledung sekitar pukul 7 malam dan berencana melakukan pendakian di pagi harinya. Akhirnya kami memutuskan untuk beres-beres dan segera beristirahat untuk menghemat tenaga.

Keesokan harinya, sekitar pukul 6 pagi kami bangun dan sarapan dengan suguhan pemandangan gunung kembar, Sindoro-Sumbing. Beruntung, pagi itu cerah, sehingga puncak keduanya terlihat jelas dan indah, membuat kami semakin tidak sabar untuk mendaki.

Gunung Sumbing terlihat dari Embung Kledung, Lereng Sindoro (Sumber Foto : Riska Diana)

 Selesai sarapan, kami bergegas melakukan registrasi dan menerima arahan terkait etika dan larangan saat mendaki. Salah satunya adalah larangan bagi pendaki yang sedang datang bulan (haid) untuk pergi ke puncak. Mereka hanya diizinkan sampai ke sunrise camp saja.

Proses registrasi pun selesai. Seperti biasa, sebelum mulai pendakian, kami melakukan briefing dan berdoa supaya semuanya berjalan lancer dan selamat sampai tujuan.

Mengingat kepada larangan untuk pendaki yang disampaikan sebelumnya, saya memastikan keempat teman perempuan saya. Apakah ada dari mereka yang sedang datang bulan atau tidak. Dan ternyata, Arfa dan Dina sedan haid. Dengan berat hati, saya melarang mereka untuk sampai ke puncak, sesuai arahan pada waktu registrasi.

Perjalanan Menuju Puncak

Setelah semua sepakat, kami mulai pendakian sekitar pukul 7 pagi. Melewati pemukiman yang mengarah ke ladang penduduk, perjalanan kami disuguhi dengan pemandangan puncak Sindoro yang gagah di depan, dan gunung Sumbing di belakang.

Kurang lebih setengah jam perjalanan sudah kami lalui. Sampai akhirnya kami sampai di batas vegetasi hutan. Dari sinilah perjalanan yang sebenarnya di mulai.

Tak berselang lama, kami sampai di pos 1 dan memutuskan untuk beristirahat sebentar. Kerongkongan sudah meronta meminta pengairan dan nafas harus sudah di atur ulang sebelum meneruskan perjalanan.

Setelah cukup beristirahat, kamipun melanjutkan perjalanan menuju pos 2. Banyak pendaki yang kami temui sepanjang perjalanan. Karena memang kebetulan hari itu adalah libur panjang. Sekitar jam 10 pagi, kami sampai di pos 2. Sampai di sini belum ada keanehan dan kejanggalan yang kami temui.

Pada perjalanan selanjutnya, dari pos 2 menuju pos 3, kami harus menuruni lembah untuk menyebarang ke punggungan gunung. Karena ada empat perempuan dalam rombongan, kami memilih untuk lebih santai. Meski ini bukan kali pertama mereka mendaki, tapi bagi kami laki-laki, mereka tetaplah perempuan.

Di pertengahan kami memutuskan untuk beristirahat sejenak, sedikit membasahi kerongkongan. Di sini, kejanggalan mulai muncul. Wahyu yang duduk di dekat pohon tumbang di tepian jalur, tiba-tiba jatuh kebalakang dan nyaris terperosok ke jurang. Beruntung dia masih berhasil meraih semak-semak di sekitarnya.

Kami yang kaget pun langsung berusaha menolongnya sembari bertanya “kamu kenapa yu ?”. Dengan nafas yang terengah-engah serta perasaan yang tidak karuan wahyu menjawab “Nggak tahu, kaya ada yang narik dari belakang”.

Jadi si Wahyu ini merasa kaya ada yang menariknya kebelakang, sehingga dia terjungkal. Mendengar penuturan Wahyu, Mustofa pun menyeletuk “Yang bener kamu, ini siang bolong loh ya, jangan mengada-ada, perasaan mu doang paling”. Kami semua masih merasa keheranan dengan kejadian ini, dan dari apa yang Wahyu tuturkan.

Karena keadaan yag sudah kurang kondusif, Saya pun memutuskan untuk mengajak mereka kembali meneruskan perjalanan. “Sudah-sudah jangan diteruskan, sekarang, ayo kita lanjutkan perjalanan”.

Kamipun kembali melanjutkan perjalanan menuju pos 3. Vegetasi pun mulai berubah, yang awalnya hutan dengan pohon-pohon besar, berubah semak-semak terbuka. Gunung Sumbing di seberang masih setia menemani perjalanan. Sampai akhirnya kami tiba di pos 3 dan istirahat sebentar untuk kemudian menuju sunrise camp.

Bersambung ke bagian 2

One thought on “Kisah Pendaki Yang Melanggar Larangan Gunung – Bagian 1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.