Menilik Sejarah Kesultanan Cirebon (Bagian III)

Pertumbuhan dan Perkembangan Kesultanan Cirebon

Halo Sobat Klanters ! ngelanjutin sejarah Kesultanan Cirebon yang ternyata nama Cirebon berasal dari kata ‘Cai’ dan ‘Rebon’yang berarti air rebon, dan didirikan oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, pada artikel kali ini kita akan membahas tentang pertumbuhan dan perkembangan Kesultanan Cirebon.

Baca Juga : Asal Usul Nama Cirebon

Baca Juga : Pendiri Kesultanan Cirebon

Pertumbuhan dan perkembangan kesultanan Cirebon yang pesat dimulai oleh Syarif Hidayatullah. la kemudian diyakini sebagai pendiri Dinasti Kesultanan Cirebon dan Banten, serta menyebar Islam di Majalengka, Kuningan, Kawali Galuh, Sunda Kelapa, dan Banten. Setelah Syarif Hidayatullah wafat pada tahun 1568, terjadilah kekosongan jabatan pimpinan tertinggi kerajaan Islam Cirebon. Pada mulanya, calon kuat penggantinya adalah pangeran Dipati Carbon, putra Pangeran Pasarean, Cucu Syarif Hidayatullah. Namun, Pangeran Dipati Carbon meninggal lebih dahulu pada tahun 1565.

Kekosongan kekuasaan itu kemudian diisi dengan mengukuhkan pejabat istana yang memegang kendali pemerintahan selama Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati melaksanakan Dakwah. Pejabat tersebut adalah Fatahillah atau Fadillah Khan. Fatahillah kemudian naik tahta secara resmi menjadi Sultan Cirebon sejak tahun 1568.

Naiknya Fatihillah dapat terjadi karena dua kemungkinan. Pertama, sultan Gunung Jati, yaitu Pangeran Pasarean, Pangeran Jayakelana, dan Pangeran Bratakelana, meninggal lebih dahulu, sedangkan putra yang masih hidup, yaitu Sultan Hasanuddin (Pangeran Sabakingkin), memerintah di Banten berdiri sendiri sejak tahun 1552M. Kedua, Fatahillah adalah menantu Sunan Gunung Jati (Fatahillah menikah dengan Ratu Ayu, putri Sunan Gunung Jati), dan telah menunjukkan kemampuannya dalam memerintah Cirebon (1546-1568) mewakili Sunan Gunung Jati. Namun sayang, hanya dua tahun Fatahillah menduduki tahta Cirebon, karena ia meninggal pada 1570.

Sepeninggal Fatahillah, tahta jatuh kepada cucu Sunan Gunung Jati, yaitu Pangeran Emas.

Pangeran Emas kemudian bergelar Panembahan Ratu l, dan memerintah Cirebon selama kurang lebih 79 tahun. Pada masa Panembahan Ratu, perhatian lebih diarahkan kepada penguatan kehidupan keagamaan. Kedudukannya sebagai ulama, merupakan salah satu alasan Sultan Mataramagak segan untuk memasukkan Cirebon sebagai daerah taklukan.Wilayah Kesultanan Cirebon saat itu meliputi Indramayu, Majalengka, Kuningan, Kabupaten, dun Kotamadya Cirebon sekarang

Ketika panembahan Ratu I wafat pada tahun 1649, ia digantikan oleh cucunya, Panembahan Girilaya atau Panembahan Ratu II. Nama aslinya adalah Pangeran Karim putra Panembahan Adiningkusumah. Panembahan Girilaya kawindengan putri Sunan Tegalwangi. Dari perkawinannya itu, Panembahan Girilaya memiliki tiga anak, yakni

– Pangeran Martawijaya,

– Pangeran Kertawijaya, dan

– Pangeran Wangsakerta.

Sejaktahun1678, di bawah perlindungan Banten, Kesultanan Cirebon terbagitiga, yakni

  1. Kesultanan Kasepuhan yang dirajai oleh Pangeran Martawijaya atau dikenal dengan Sultan Sepuh l,
  2. Kesultanan Kanoman yang dikepalai oleh Pangeran Kertawijaya dikenal dengan Sultan Anom I, dan
  3. Panembahan yang dikepalai Pangeran Wangsakerta atau Panembahan Cirebon l.

Pada masa pemerintahan Panembahan Girilaya, Cirebon terjepit di antara dua kekuatan, yaitu kekuatan Banten dan kekuatan Mataram. Banten curiga, sebab Cirebon dianggap mendekat ke Mataram.

Di Iain pihak, Mataram pun menuduh Cirebon tidak lagi sungguh-sungguh mendekatkan diri, karena Panembahan Girilaya dan Sultan Ageng dari Banten adalah sama-sama keturunan Pajajaran. Kondisi panas ini memuncak dengan meninggalnya Panembahan Girilaya saat berkunjung ke Kartasura.

Lalu ia dimakamkan di bukit Girilaya, Yogyakarta, dengan posisi sejajar dengan makam Sultan Agung di Imogiri.

Perlu diketahui, Panembahan Girilaya adalah juga menantu Sultan Agung Hanyakrakusuma. Bersamaan dengan meninggalnya Panembahan Girilaya, Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya, yakni para putra Panembahan Girilaya ditahan di Mataram. Dengan kematian Panembahan Girilaya, maka terjadi kekosongan penguasa untuk kedua kalinya.

Sultan Ageng Tirtayasa segera dinobatkan oleh Pangeran Wangsakerta sebagai pengganti Panembahan Girilaya atas tanggung jawab pihak Banten.Sultan Ageng Tirtayasa pun mengirimkan pasukan dan kapal perang untuk membantu Trunojoyo, yang saat itu sedang memerangi Amangkurat l dari Mataram. Dengan bantuan Trunojoyo, maka kedua putra Panembahan Girilaya yang ditahan akhirnya dapat dibebaskan,dan dibawa kembali ke Cirebon.

Bersama satu lagi putra Panembahan Girilaya, mereka kemudian dinobatkan sebagai penguasa Kesultanan Cirebon. Pada penobatan ketiganya tahun1677, Kesultanan Cirebon terpecah menjadi tiga. Ketiga bagian itu dipimpin oleh tiga anak Panembahan Girilaya, yakni

  1. Pangeran Martawijaya/ Sultan Keraton Kasepuhan, dengan gelar Sepuh Abi Makarimi Muhammad Samsudin(1677-1703).
  2. Pangeran Kartawijaya /Sultan Kanoman, dengan gelar Sultan Anom Abil Makarimi Muhammad Badrudin(1677-1723).
  3. Pangeran Wangsakerta atau Panembahan Cirebon, dengan gelar PangeranAbdul Kamil Muhammad Nasarudin atau Panembahan Tohpati(1677-1713).

Perubahan gelar dari panembahan menjadi sultan bagi dua putra tertua Pangeran Girilaya dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa. Sebab, keduanya dilantik menjadi Sultan Cirebon di lbu Kota Banten. Sebagai Sultan, mereka mempunyai wilayah kekuasaan penuh, rakyat, dan keraton masing-masing.

Adapun Pangeran Wangsakerta tidak diangkat sebagai Sultan, melainkan hanya Panembahan. la tidak memiliki wilayah kekuasaan atau keraton sendiri, akan tetapi berdiri sebagai kaprabonan (paguron), yaitu tempat belajar para ilmuwan keraton. Pergantian kepemimpinan para sultan di Cirebon selanjutnya berjalan lancar, sampai pada masa pemerintahan Sultan Anom IV (1798-1803).

To Be Continue……

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.