Menilik Sejarah Kerajaan Cirebon (Bagian II)

Pendiri Kesultanan Cirebon

Halo Sobat Klanters !. pada artikel sebelumnya kita sudah mengenal bahwa nama Cirebon ternyata berasal dari kata ‘Cai’ dan ‘Rebon’ yang memiliki arti air rebon – hemh air rebon, kasih pedes dikit enak kayaknya.

Baca Juga : Mengulik Sejarah Kerajaan Cirebon (Bagian I)

Nah, pada kali ini, kita bakal cari tahu nih, siapa si yang mendirikan kesultanan Cirebon, sampai-sampai kerajaan ini menjadi salah satu kerajaan terbesar di Jawa Khususnya dan juga di Nusantara.

Mengenai pendiri Kesultanan Cirebon, sebagaimana disebut dalam sumber-sumber sejarah, adalah seorang anggota Wali Sanga yang bergelar Sunan Gunung Jati. Berbagai sumber menyebut kan tentang asal-usul Sunan Gunung Jati.

Dalam sumber lokal yang tergolong historiografi, disebutkan kisah tentang Ki Gedeng Sedhang Kasih, sebagai Kepala Nagari Surantaka, bawahan Kerajaan Galuh.

Ki Gedeng Sedhang Kasih, adik Raja Galuh, Prabu Anggalarang, memiliki putri bernama Nyai Ambet Kasih. Putrinya ini dinikahkan dengan Raden Pamanah Rasa, putra Prabu Anggalarang. Karena Raden Pamanah Rasa memenangkan sayembara, lalu menikahi putri Ki Gedeng Tapa (pendiri Dukuh Cirebon) yang bernama Nyai Subanglarang, dari Nagari Singapura, tetangga Nagari Surantaka. Dari perkawinan tersebut, lahirlah tiga orang anak, yakni

  1. RadenWalangsungsang,
  2. Nyai Lara Santang,dan
  3. Raja Sangara.

Setelah ibunya meninggal, Raden Walangsungsang dan Nyai Lara Santang meninggalkan Keraton, lalu tinggal di rumah Pendeta Buddha bernama Ki Gedeng Danuwarsih. Putri Ki Gedeng Danuwarsih yang bernama Nyai lndang Geulis dinikahi oleh Raden Walangsungsang, dan berguru agama Islam kepada Syekh Datuk Kahfi.

Raden Walangsungsang diberi nama baru, yaitu Ki Samadullah, dan kelak sepulang dari Tanah Suci diganti nama menjadi Haji Abdullah lman.

Atas anjuran gurunya, Raden Walangsungsang membuka daerah baru yang diberi nama Tegal Alang-alang atau Kebon Pesisir. Daerah Tegal Alang-alang berkembang dan banyak didatangi oleh orang Sunda, Jawa, Arab, dan Cina, sehingga disebutlah daerah ini ‘Caruban’, artinya campuran.

Bukan hanya etnis yang bercampur, tapi agama juga bercampur.

Atas saran gurunya, Raden Walangsungsang pergi ke Tanah Suci bersama adiknya, Nyai Lara Santang. Di Tanah Suci inilah, adiknya dinikahi oleh Maulana Sultan Muhammad bergeIar Syarif Abdullah keturunan Bani Hasyim putra Nurul Alim. Nyai Lara Santang berganti nama menjadi Syarifah Mudaim. Dari perkawinan ini, lahirlah Syarif Hidayatullah yg kelak menjadi Sunan Gunung Jati.

Dilihat dari genealogi, Syarif Hidayatullah yang nantinya menjadi salah seorang Wali Sanga Sesudah adiknya kawin, Ki Samadullah atau Abdullah imam pulang ke Jawa. Setibanya di tanah Jawa, la mendirikan Masjid Jalagrahan, dan membuat rumah besar yg nantinya menjadi Keraton Pakungwati. Setelah Ki Danusela meninggal, Ki Samadullah diangkat menjadi Kuwu Caruban, dan digelari Pangeran Cakrabuana. Pakuwuan ini ditingkatkan menjadi Nagari Caruban larang.

Pangeran Cakrabuana mendapat gelar dari ayahandanya, Prabu Siliwangi, sebagai Sri Mangana, dan dianggap sebagai cara untuk melegitimasi kekuasaan Pangeran Cakrabuana.

Setelah berguru di berbagai negara, kemudian Dengan persetujuan Sunan Ampel dan para wali Iainnya, Syarif Hidayatullah pergi ke Caruban Larang dan bergabung dengan uwaknya, Pangeran Cakrabuana. Syarif Hidayatullah tiba di pelabuhan Muara Jati, kemudian terus ke Desa Sembung-Pasambangan, dekat Amparan Jati, dan mengajar agama Islam, menggantikan Syekh Datuk Kahfi.

Syekh Jati juga mengajar di Dukuh Babadan. Di sana, ia menemukan jodohnya dengan Nyai Babadan, putri Ki Gedeng Babadan. Karena istrinya meninggal, maka Syekh Jati kemudian menikah lagi dengan Dewi Pakungwati, putri Pangeran Cakrabuana, selain menikahi Nyai Lara Bagdad, putri sahabat Syekh Datuk Kahfi. Syekh Jati kemudian pergi ke Banten untuk mengajarkan agama Islam di sana. Ternyata, Bupati Kawunganten yang keturunan Pajajaran sangat tertarik, sehingga masuk Islam dan memberikan adiknya untuk diperistri. Dari perkawinan dengan Nyai Kawunganten, maka lahirlah Pangeran Saba Kingkin, yang kelak dikenal sebagai Maulana Hasanuddin, pendiri Kerajaan Banten.

Sementara itu, Pangeran Cakrabuana meminta Syekh Jati menggantikan kedudukannya dan Syarif Hidayatullah kembali ke Caruban. Di Cirebon, ia dinobatkan sebagai Kepala Nagari dan digelari Susuhunan Jati atau Sunan Jati atau Sunan Caruban atau Cerbon. Sejaktahun1479 itulah, Caruban Larang dari sebuah nagari mulai dikembangkan sebagai pusat kesultanan, dan namanya diganti menjadi Cerbon.

Pertumbuhan dan perkembangan kesultanan Cirebon yang pesat dimulai oleh Syarif Hidayatullah. la kemudian diyakini sebagai pendiri Dinasti Kesultanan Cirebon dan Banten.

2 thoughts on “Menilik Sejarah Kerajaan Cirebon (Bagian II)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.