Mengulik Sejarah Kesultanan Cirebon (Bagian Akhir)

Akhir Kisah Perjalanan Kesultanan Cirebon

Halo Sobat Klanters ! sebuah roda kehidupan akan terus bergulir – kecuali kalo rodanya kemps heuheu – , nah begitu juga dengan perjalanan sebuah kekuasaan. Tiada di dunia ini yang selalu berada di atas maupun di bawah.

Memilik kembali kepada kesultanan Cirebon yang bahkan diklaim sebagai kesultanan yang tidak pernah ditaklukkan, pada akhirnya mereka juga meredup, bahkan akhirnya kesultanan ini dihapuskan. Bagaimana kisahnya, kita simak bersama.

Baca Juga : Asal Usul Nama Cirebon

Pergantian kepemimpinan para sultan di Cirebon berjalan lancar, sampai pada masa pemerintahan Sultan Anom IV (1798-1803).

Saat itu, terjadilah perpecahan karena salah seorang putranya, yaitu Pangeran Raja Kanoman, lngin memisahkan diri membangun kesultanan sendiri dengan nama Kesultanan Kacirebonan. Kehendak Raja Kanoman didukung oleh pemerintah Belanda (VOC) yang juga ambil andil mengangkatnya menjadi Sultan Cirebon pada tahun 1807.

Namun, Belanda menyajukan satu syarat, yaitu agar putra dan para pengganti Raja Kanoman tidak berhak atas gelar Sultan. Cukup dengan gelar Pangeran saja. Sejak itu, di Kesultanan Cirebon bertambah satu penguasa lagi, yaitu Kesultanan Kacirebonan.

Baca Juga : Pendiri Kesultanan Cirebon

Sementara itu, tahta Sultan Kanoman V jatuh pada putra Sultan Anom IV lain bernama Sultan Anom Abu soleh lmamuddin (1803-1811). Kota Cirebon tumbuh secara perlahan-lahan. Pada tahun 1800, Residen Waterloo mencoba membuat pipa saluran air yang mengalirdari linggajati, tetapi akhirnya terbengkalai. Pada tahun 1858, di Cirebon terdapat 5 buah toko eceran dua perusahaan dagang. Pada tahun 1865, tercatat ekspor gula sejumlah 200.000 pikulan (kuintal).

Baca Juga : Pertumbuhan dan Perkembangan Kesultanan Cirebon

Dan pada tahun 1868, tiga perusahaan Batavia yang bergerak di bidang perdagangan gula membuka cabangnya di Cirebon.

Pada tahun1877, disana sudah berdiri pabrik es dan pipa air minum yg menghubungkan sumur-sumur artesis dengan perumahan dibangun pada tahun 1877. Pada masa itu, Cirebon merupakan salah satu dari 5 kota pelabuhan terbesar di Hindia Belanda, dengan jumlah penduduk 23.500 orang. Produk utamanya adalah beras, ikan, tembakau, dangula. Namun, setelah perebutan kekuasaan tersebut. Pemerintah kolonial Belanda pun semakin ikut campur dalam mengatur Cirebon. Sehingga, peranan istana-istana Kesultanan Cirebon di wilayah-wilayah kekuasaannya semakin surut. Puncaknya, terjadi pada tahun-tahun 1906 dan 1926, ketika kekuasaan pemerintahan Kesultanan Cirebon secara resmi dihapus dengan pengesahan berdirinya KotaCirebon.

Sumber ref :

  • Babad Tanah sunda, Babad Cirebon, P. S.Sulendraningrat
  • Babad Banten,opac.perpusnas.go.id
  • https://www.cirebonkota.go.id/profil/sejarah/sejarah-keraton

146 thoughts on “Mengulik Sejarah Kesultanan Cirebon (Bagian Akhir)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.