Mengulik Sejarah Kerajaan Sunda Galuh (bagian akhir)

Pasang Surut Sunda Galuh

Berita kematian Tamperan dan istrinya di dengar oleh Sanjaya yang sudah berada di Mataram kuno, tentu hal ini menjadi masalah dan sulit dibendung namun Ciung Wanara sudah mengatisipasi dengan mengumpulkan pasukan Indrapahasta di Wanagiri , kuningan dan sekitarnya.

Perang besar sesama keturunan Wretikandayun berlanjut dan banyak menewaskan bala tentara, namun akhirnya perang dapat dilerai dengan keberadaan Raja Resi Demunawanyang berada ditengah-tengah pihak, perdamaian itu disertai beberapa perjanjian antara kedua belah pihak yang berisi :

  • Galuh tetap diserahkan kepada Ciung Wanara dan Sunda diserahkan pada Banga maka dengan ini kerjaan Sunda Galuh yang sudah menyatu thn 723-739 M , harus terpisah kembali
  • Agar perjanjian semakin erat Manarah dan Banga dijodohkan dengan kedua cicit Resi Demunawan 
  • Ciung Wanara memiliki gelar Prabu Jayaprakosa Mandaleswara Salakabuana dan Banga memiliki gelar Prabu Kretabuana Yasawiguna Aji Mulya.

Cerita tersebut ada dalam Naskah tua dari Kabuyutanyang ada di Ciburuy, Bayongbong, Garut yang ditulis pada abad ke 13 M hingga 14 M. Tertulis dalam naskah-naskah Babad bahwa keberadaan Manarah sering dikaburkan Banga dianggap lebih tua dari Manarah Dan posisi mereka terbalik. Karena perjodohan itu Sunda dan galuh kembali menjalin hubungan baik dan menyatu.

Daftar Raja-Raja Sunda Galuh

  1. Tarusbawa&Purbasora ( 669-723 M)
  2. Sanjaya Harisdarma ( 723-732 M)
  3. Tamperan (733-739 M )
  4. Banga&Manarah (739-766 M)
  5. Medang Prabu Hulukujang (783 M)
  6. Prabu Gilingwesi (783-795 M )
  7. PucukbumiDarmeswara (795-819 M)
  8. Prabu Gajah Kulon RakeyanWuwus (819-891 M)
  9. Prabu Darmaraksa (891-895 M)
  10. Windusakti Prabu Dewageng (895-913 M)
  11. Rakeyan kemuning Gading Prabu (913-916 M)
  12. RakeyanJayagiri (916-942 M)
  13. Prabu Resi AtmayadarmaHariwangsa (942-954 M)
  14. Limbur Kancana (954-964 M)
  15. Prabu Munding Ganawirya (964-973 M)
  16. Prabu JayagiriRakeyan Wulung gadung (973-989 M)
  17. Prabu Drajawisesa (989-1012 M)
  18. Prabu Dewa Sanghyang (1012-1019M)
  19. Prabu Sanghyang Ageng
  20. Prabu Detya Maharaja Sri Jayabupati (1030-1042 M )
  21. Darmaraja (1042-1065 M)
  22. Langlangbumi (1065-1155 M)
  23. RakeyanJayagiri Prabu Menakluhur (1155-1157 M)
  24. Darmakusuma (1157-1175 M)
  25. Darmasiksa Prabu Sanghyang Wisnu (1175-1297 M)
  26. Ragasuci (1297-1303 M)
  27. Citraganda (1303-1311 M)
  28. Prabu Linggadewata (1311-1333 M)
  29. Prabu AjigunaLinggawisesa (1333-1340 M)
  30. Prabu RagamulyaLuhurprabawa (1340-1350 M)
  31. Prabu Maharaja Linggabuwanawisesa (1350-1357)
  32. Prabu Bunisora (1357-1370)
  33. Prabu Niskala wastu kancana

  34. Prabu susuktunggal (1475-1482)
  35. Jayadewata Sri Baduga Maharaja putra Dewa Niskala (1482-1521)

Ketika Raja Wastu Kencana wafat kerajaan Sunda Galuh kembali terpecah dua bagian  Susuktunggal berkuasa di pakuan (Sunda) dan Dewa Niskala berkuasa di Kawali (Galuh).

Ketika tahun 1482 M, Sri Baduga Maharaja naik takhta dan memerintah sampai thn 1521 M, saat pemerintahaannya kembali menyatukan Kerajan Sunda dan Galuh seperti sebelum nya dan di era nya kerajaan itu Sering disebut dengan Kerajaan Pajajaran .

sumber refrensi dari buku :

  1. Hitam putih pajajaran dari kejayaan hingga keruntuhan /ferytaufiqel- jaquene, 2019
  2. Perang bubat (1279 saka), 2019, sri wintalaachmad
  3. Hitam putih kekuasaan Raja-raja Jawa , sri wintalaachmad
  4. Atja (1968). CaritaParahiyangan: Naskah Titilar Karuhun Urang Sunda. Bandung,  JajasanKebudajaanNusalarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.