Mengulik Sejarah Kerajaan Sunda Galuh (Bagian III)

Perebutan Kekuasaan Oleh Ciung Wanara

Setelah Tarusbawa wafat ia digantikan oleh Rakeyan Jamri yang merupakan cicit dari Wretikandayun dari Galuh. oleh sebab itulah, Kerajaan Kalingga mempunyai keterlibatan di Kerajaan Sunda. 

Dalam kepemimpinan Rakeyan Jamri di kerajaan Sunda, ia dikenal Masyarakat dengan sebutan Parbu Harisdharma, sedangkan setelah menguasai Galuh ia dikenal dengan sebutan Sanjaya.

Secara silsilah Sanjaya memiliki ibu bernama Sanaca, cucu Ratu Shima dari Kalingga di jepara dan ayahnya Bratasena, Raja Galuh ke-3 yang merupakan teman dekat Tarusbawa.

Bratasena memiliki hubungan resmi dengan Kerajaan Galuh karena ia merupakan cucu dari Wretikandayun. Dikisahkan saat Bratasena memimpin Galuh (716 M ), terdapat perseteruan dalam kerajaan, Bratasena dikudeta oleh Purbasora. 

Padahal, purbasora merupakan saudara satu ibu Bratasena, akhirnya Bratasena menyelamatkan diri ke Sundapura dan meminta pertolongan pada Tarusbawa.

Singkat cerita Bratasena mempunyai putra yakni Sanjaya. Hingga Sanjaya cukup usia untuk membalaskan perlakuan Purbasora pada Ayahnya, diwaktu yang telah ditentukan Sanjaya dibantu oleh Tarusbawa menyerang Kerajaan Galuh.

Dalam penyerangan Galuh mengalami kekalahan. Sanjaya pun mampu menjadi penguasa Kerajaan Sunda ( tidak tahu bagaimana mungkin Tarusbawa memberikan tahtanya atau seperti apa ) Kerajaan Galuh dan tentu saja Ia juga pewaris Kerajaan Kalingga (setelah Ratu Shima Wafat)

Sebagai ahli waris resmi Kalingga, Sanjaya menjadi penguasa Kalingga bagian utara yang biasa disebut Bumi Mataram (Mataram Kuno) pada thn 732 M. Sedangkan tanah yang ada di Sunda diserahkan kepada putranya bernama Tamperan Barmawijaya (Rakeyan Panaraban).

Secara garis keturunan Rakeyan Panaraban merupakan kakak seayah dari Rakai Panangkaran, putra Sanjaya dari Sudiwara putri Dewasinga, Raja Kalingga Selatan atau sering disebut Bumi Sambara (ini tertuang dalam Prasasti Jayabupati). Menurut sumber lain yang mengisahkan Kerajaan Sunda, yakni berita dari Tiongkok pada thn 669 M, Tarusbawa mengirimkan utusan yang memberitahukan penobatan nya menjadi Raja Kerajaan Sunda kepada Kaisar Tiongkok. Tarusbawa dinobatkan menjadi Raja pada 18 Mei 669 M ( menurut tahun  Saka berarti 9 bagian terang bulan Jesta tahun 591 Saka )

Dalam Prasasti Canggal dikisahan Tarusbawa adalah sahabat baik Bratasena (Sena) mempunyai nama lain yaitu Sanna yang merupakan paman dari Sanjaya (disini terdapat perbedaan pendapat yah mengenai Sanjaya)

Saat Bratasena memimpin Galuh, Purbasora dibantu oleh
Mertuanya yakni Raja Indraprahasta yang memimpin Kerajaan di daerah Cirebon untuk melancarkan serangan ke Galuh dan merebut takhta Sena. Karena tidak mampu mengatasinya, Sena akhirnya melarikan diri ke Pakuan meminta perlindungan pada Raja Tarusbawa.

Mengetahui hal ini Sanjaya ingin menuntut balas dendam terhadap Purbasora yang telah semena-mena merusak gelar Bratasena sebagai Raja Galuh. 

Dalam serangan sanjaya ke Galuh hampir seluruh keluarga Purbasora gugur dalam pertempuran. Satu orang yang berhasil meloloskan diri Yaitu menantu Purbasora yang bernama Bimaraksa atau dikenal sebagai Ki Balangantrang. Ia bersembunyi di Kampung Geger Sunten.

Saat berada di Galuh, Sanjaya mendapatkan pesan dari Bratasena bahwa seluruh keluarga keraton Galuh harus tetap dihormati kecuali Purbasora. Padahal, waktu itu Sanjaya sama sekali tidak punya niat menjadi penguasa di Galuh. Niat awalnya hanya ingin membalas perbuatan Purbasora. Lalu sanjaya menghubungi Sempakwaja yang berada di Galunggung dan meminta agar Demunawan ( adik Purbasora ) direstui menjadi Raja Galuh. Tetapi Sempakwaja menolak permintaan tersebut. Sementara waktu itu, Sanjaya tidak bisa menghubungi Ki Balangantrang karena tidak tahu keberadaan nya.

Akhirnya, dengan terpaksa Sanjaya dinobatkan menjadi Raja Galuh. Ia sadar keberadaan nya di Galuh banyak tidak disenangi. Sementara ia juga dijadikan Raja Sunda dan harus bertempat tinggal di Pakuan.
Maka sanjaya mengangkat Premana Dikusuma ( cucu dari Purbasora ) dan memiliki julukan Begawat Sajalajaya.

Agar ikatan antara Sunda dan Galuh tetap Harmonis dengan harapan seperti Tarumanegara, Sanjaya pun menjodohkan Premana ( Raja Galuh ) dengan Dewi Pangrenyep ( putri dari Anggada atau Patih Sunda ).

Berposisi sebagai Raja Galuh membuat Premana semakin tak nyaman, di satu sisi ia harus tunduk di bawah kekuasaan Sunda, sedangkan disisi lain kerajaan Sunda berada dibawah tangan Sanjaya yang merupakan pembunuh kakeknya. Semakin hari permana seperti memiliki tekanan batin, tetapi tak ada orang yang tepat menampung ceritanya saat itu. Hingga akhirnya Premana meninggalkan Galuh untuk bertapa.

Sebelum pergi Premana memerintahkan Tamperan, putra dari Sanjaya yang dijadikan Patih di Galuh oleh Sanjaya sendiri untuk memegang takhta Galuh.

Setelah beberapa lama menjadi Raja Galuh Tamperan pun menyukai Pangrayep, istri dari Premana dan hasil dari hubungan itu pangrayep melahirkan seorang anak yang diberi nama Kamarasa atau Banga (723 M )

Untuk menghapus jejak dan memberitakn bahwa premana telah wafat, Tamperan mengupah seorang pembunuh untuk membunuh Premana (kasian Premana istrinya selingkuh dibunuh pula)

Pada thn 732 M, Sanjaya secara resmi ditetapkan sebagai Raja di Kerajaan Mataram Kuno karena harus melanjutkan takhta orang tuanya, sebelum kembali ke Mataram Sanjaya mengatur pembagian kekuasaan antara putranya dan Resi guru Demunawan. Tamperan mendapatkan Jatah di Kerajaan Sunda dan kerajaan Galuh sementara Resi Guru Demunawan mendapatkan jatah di Kuningan dan Galunggung. Tamperan melanjutkan kepemimpinan ayahnya di Sunda Galuh thn 732-739 M

Sementara itu disisi lain ada sosok Manarah atau Ciung Wanara
Ciung Wanara secara diam-diam menyusun siasat untuk merebut Galuh atas bimbingan buyutnya Ki Balangantrang, selama hidup Tamperan memperlakukan Ciung Wanara sebagai anaknya sendiri walau secara garis keturunan Manarah hanya anak Tiri ( anak Premana )

Manarah melancarkan aksinya saat para pembesar Galuh menyaksikan sabung ayam ( Pasukan Ciung Wanara menyamar sebagai Penyabung dengan membawa Ayam ) Ciung Wanara berhasil menguasai Galuh dan menahan Tamperan serta Pangreyep Termasuk Banga. Namun karena Banga
Tidak memiliki pengaruh di Galuh ia pun dilepaskan , malam harinya Banga datang ke gelanggang sabung bermaksud intuk membebaskan Tamperan dan Pangreyep tapi hal ini diketahui bebrapa prajurit.

Mereka bertiga pun melarikan diri sembari dikejar oleh pasukan Ciung Wanara yang telah siap dengan Panahnya, pada akhirnya Tamperan dan Pangreyep harus menyerah karena anak panah yang menancap di punggung mereka, sementara Banga bertarung melawan Ciung Wanara namun Banga mengalami kekalahan.

One thought on “Mengulik Sejarah Kerajaan Sunda Galuh (Bagian III)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.