Lahirnya Putra Dan Jatuhnya Tahta – Bagian 3

Sebelumnya di kalantur.com : Setelah mengetahui bahwa yang dinikahinya adalah putra nya sendiri, Sekar Sungsang, mereka pun memutuskan untuk bercerai. Untuk menutupi aib perceraian ini, Sekar Sungsang kemudian melakukan pernikahan dengan Puteri Minasih, anak Patih Lau.

Baca Juga : Putra Mahkota Kalimantan Yang Kembali – Bagian 2

Kelahiran Putra Sekar Sungsang

Karena sebelumnya, Puteri Kabuwaringin telah mengandung dari hasil pernikahannya dengan Sekar Sungsang, lahirlah seorang anak laki-laki dari rahimnya. Anak yang juga merupakan cucunya. – anakku adalah cucuku, kaya judul sinetron di salah satu channel tv swasta aja hihi.

Rasa malu kemudian menyelimuti sang puteri. Lagi-lagi, anak yang telah ia lahirkan dari kandungannya sendiri itu, ia perlakukan dengan begitu tega. Daripada menanggung malu, ia lebih memilih untuk kehilangan putra nya. Ia memerintahkan pesuruh kerajaan untuk memasukkan anaknya kedalam peti danmenghanyutkannya.

Peti yang hanyut terbawa arus sungai ke Marabahan dalam yang ada di daerah Kalimantan Selatan. Setelah itu, peti berisi anak permaisuri itu dipungut oleh seorang warga yang menemukannya. Sang warga yang tekejut itu kemudian menjadi gembira karena bisa mendapatkan putra.

Warga tersebut akhirnya memutuskan untuk merawat sang anak. Ia memberinya nama Siro Pandji Kusumo ( nah ini nanti kisahnya, anak ini cikal bakal turunan raja Dusun Lawangan, Bijau dll, tunggu selengkapnya di kalantur.com)

Singkat cerita, Raden Sekar Sungsang dan Puteri Minasih mendapatkan tiga orang anak. Seorang putri, bernama Ratnasari, dan dua orang putra yang bernama Raden Santang dan Raden Menteri.

Jatuhnya Tahta Kerajaan

Tidak lama setelah itu, Raden Sekar Sungsang meninggal secara gaib. Entah bagaimana ia meninggal. Namun dari buku yang dewan redaksi baca tertulis demikian.

Sepeninggal Raden Sekar Sungsang, tahta kerajaan pun akhirnya jatuh kepada anak sulungnya, Ratnasari. Setelah penobatanna sebagai ratu dan penguasa kerajaan, Ratnasari kemudian mendapatkan gelar Ratu Lama.

pada masa pemerintahan Ratu Lama Ia diwajibkan oleh saudaranya, yaitu Sunan Serabut yg memerintah di Giri, untuk selalu mengantar upeti kepada nya, karena Kerajaan Ratu Lama pada saat itu dibawah kekuasaan Sunan Giri.

Kemudian setelah Raden Menteri, yaitu adik dari Ratu Lama telah beranjak dewasa , sesuai peraturan kerajaan sang adik dilantik menjadi raja mengganti kedudukan Ratu Lama dan memakai gelar Ratu Anum.

Tetapi selama Ratu Anum memerintah atau menjadi Raja belum pernah sekalipun mengantar upeti kepada Sunan Serabut yg berkedudukan di jawa yang membuat Sunan Serabut marah lalu akhirnya menangkap dan menghukum Ratu Anum. 

Lagi-lagi, kerajaan Banjarmasin mengalami Vacum of Power. Karena Ratu Anum sedang  tidak ada, maka posisi raja kosong. Hal ini membuat pemerintahan kerajaan harus menyerahkan kekuasaan kepada adiknya  Raden Santang dan bergelar Singo Goergo.

One thought on “Lahirnya Putra Dan Jatuhnya Tahta – Bagian 3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.