Kudeta Tahta Kerajaan – Bagian 4

Sebelumnya di kalantur.com : Ratu Anum selama menjadi raja tidak pernah sekalipun mengantar upeti kepada Sunan Serabut yang berada di Jawa. Hal tersebut membuat Sunan Serabut marah besar dan memerintahkan penangkapan Ratu Anum ke Jawa lantas menghukumnya. Banjarmasin pun kembali mengalami Vacum of Power.

Baca Juga : Lahirnya Putra dan Jatuhnya Tahta

Kembalinya Sang Raja

Dalam rangka mengatasi keadaan Vacum of Power , maka kerajaan mengangat adik dari Ratu Anum, Raden Santang, yang kemudian mengampu gelar Singo Goergo.

Hal yang pertama kali diupayakan selama Raden Santang mengampu tahta kekuasaan adalah berusaha melepaskan saudaranya, Ratu Anum dari tawanan Sunan Serabut. Nahas, usahanya selalu menemui kegagalan.

Kendati demikian, Raden Santang tak pernah berputus asa untuk bisa mengembalikan sang kakak ke Kalimantan. Sampai akhirnya, Ratu Anum berhasil lepas dari tawanan Sunan Serabut dan pulang ke Kalimantan.

Sepulangnya ke Kalimantan, tahta kerajaan kembali ke tangan Ratu Anum. Namun, tidak lama setelah kerajaan kembali kepada penguasanya, sang raja justru menemui ajalnya. Tahta kerajaan pun jatuh kepada putra mahkota, Gusti Ariangin Djaja dengan gelar Pangeran Tumenggung.

Di masa kekuasaan Pangeran Tumenggung, putra Ratu Lama, Gusti Sumambang, diangkat menjadi Mangkubumi dengan gelar Pangeran Sukarama. Sedangkan anak Pangeran Goergo, Pangeran Agung, menjadi Adipati di bawah Pangeran Sukarama.

Kudeta Tahta Kerajaan

Sebagai seorang Mangkubumi, Pangeran Sukarama membuat sebuah negeri yang terletak di Babirik. Sebenarnya, si Mangkubumi ini memiliki niatan jahat terhadap Tumenggung. Karena ia mengingninkan tahta kekuasaan sebagai seorag raja. Bukan sebagai Mangkubumi.

Dari niatan jahat ini, Sekarama menyusun sebuah siasat untuk melakukan kudeta terhadap kekuasaan Pangeran Tumenggung. Pada suatu hari ketika Pangeran Sukarama mengadakan pertunjukan wayang, sudah pasti Pangeran Tumenggung diundang untuk datang dan ikut hadir dalam pertunjukkan wayang. Tiba-tiba, sesampainya di situ, Pangeran Tumenggung dibunuh oleh Pembekal Mardata, seorang penakawan dan suruhan Pangeran Sukarama.

Dengan terbunuhnya Pangeran Tumenggung, maka sukseslah kudeta Sukarama untuk menyingkirkan saudaranya itu. Ia pun naik tahta menggantikan Tumenggung di kursi kerajaan.

Pada waktu yang sama dengan terbunuhnya Pangeran Tumenggung, permaisuri kerajaan ketika itu, Putri Intan, tengah mengandung. Dan tidak lama kemudian melahirkan seorang putera laki-laki. Pangeran Sukarama yang merasa sangat cemas usai pembunuhan sang Raja, memerintahkan agar anak Putri Intan dihanyutkan ke sungai.

Peti yg berisi anak keturunan raja itu hanyut terbawa arus sungai, sampai di dekat Muara cerucuk. Di sanalah, Patih Masih menemukan peti berisi anak tersebut, lalu merawatnya di Kampung Kuwin. 

Sukarama yang telah melakukan pembunuhan serta pembuangan anak Tumenggung, merasa belum puas. Kecemasan masih meliputi kepalanya. Hingga akhirnya, ia merencanakan untuk membunuh sang permaisuri.

Namun, belum sampai terjadi pembunuhan, Putri Intan sudah melarikan diri terlbih dahulu. Sang Putri kabur bersama dengan Patih Maha, saudara Patih Masih. Mereka lari menuju Marampiau lalu ke Kampung Balandian.

Beberapa hari tinggal di sana, ada kabar yang sampai di telinga Putri Intan, bahwa Patih Masih menemukan seorang anak. Maka, ibu dan anak ini kembali bertemu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.