Kisah Pendaki Yang Melanggar Larangan Gunung – Bagian 3

Hello Pendaki, Sebelumnya di kalantur.com …..

“Hey, Fa. Kenapa ? melamun aja. Gimana pendakiannya ?”

“Gapapa, Sindoro indah, Alhamdulillah sampai puncak”

“Udah ayok beres-beres trus pulang”

Saya masih terus memerhatikan Arfa. Ada yang aneh dengannya. Semoga baik-baik saja batinku. Selesai beres-beres, kami langsung pulang menuju rumah kembali

Baca juga : Kisah Pendaki Yang Melanggar Larangan Gunung – Bagian 2

Dia Benar-Benar Mengikuti

Setelah semuanya beres, kami langsung berangkat pulang malam itu juga. Perjalanan pulang kami diselimuti keheningan. Arfa di belakangku tak bergeming. Saya pun demikian. Mungkin efek dari letihnya badan, dan perjalanan malam yang mengharuskan saya untuk ekstra hati-hati dalam berkendara.

Keanehan kembali menghampiri di tengah perjalanan. Arfa yang sedari tadi diam, tiba-tiba samar-samar terdengar terus membaca shalawat sepanjang jalan. Saya mulai bertanya-tanya, ada apa, tidak biasanya Arfa begini. Dari spion nampak wajahnya begitu muram dan penuh kecemasan.

“kenapa fa ? seperti ada sesuatu yang kamu sembunyikan” tanyaku. Tapi Arfa hanya terdiam tak menjawab.

Dengan sedikit kesal dan penasaran, saya sedikit menaikkan suara. “Oy Fa, kenapa si, ditanya juga” tapi Arfa masih juga diam. Lalu tiba-tiba, “aaaaaaaaaaaaa” Arfa menjerit dengan sangat keras mengagetkanku.

Karena kaget dengan apa yang dilakukan Arfa, Saya langsung berhenti dan diikuti oleh teman-teman yang lain.

“Kenapa-kenapa ?” tanya Jaza dengan tergopoh gopoh dan muka penuh kecemasan.

“Gak tahu Arfa tiba-tiba teriak”

Dan seketika, Arfa terjatuh tak sadarkan diri. Beruntung ada sebuah rumah di dekat kami berhenti. Arfa yang setengah sadar, kami bawa ke halaman rumah tersebut untuk memastikan keadaannya.

Menyaksikan apa yang terjadi, kami mulai panic. Waktu yang juga sudah malam menambah kebingungan. Lalu, ketika kami sedang saling tatap dan mencoba menyadarkan Arfa, tiba-tiba Arfa membuka mata dengan sangat lebar. Dia melotot ditambah raut wajah yang sangat marah. Sontak bacaan istighfar muncul dari mulut kami tanpa kode.

“Ini bukan Arfa” celetuk Jaza.

Setelah itu, tangan Arfa mulai memberontak. Wahyu dan Mustofa memegangnya erat-erat sembari mencoba mengajaknya berkomunikasi. Tapi Arfa masih dengan raut wajah yang sama, mata melotot dan wajah yang semakin marah.

Dia Tak Mau Pergi

Tiba-tiba Arfa menjerit dengan sangat kencang. Dia berteriak “Tidaaaaaakkk” dari situ kami yakin bahwa ini bukan Arfa. Ada makhluk yang telah merasukinya.

Mendengar teriakan Arfa yang kencang dan terus menerus, warga pun penasaran dan mulai berdatangan menghampiri kami. Tak terkecuali ibu-ibu pemilik rumah yang kami tumpangi tanpa izin itu. Beliau pun menyuruh kami untuk membawa Arfa masuk ke dalam rumah.

Di dalam rumah, Arfa kembali membuka matanya. Dengan tatapan kosong, matanya terus berputar melihat ke langit-langit rumah denngan ekspresi wajah yang aneh. Antara marah dan mencari sesuatu.

Lagi-lagi Arfa teriak. “Pergi, pergi, jangan ganggu kami” terus berulang kali. Kami yang masih kebingungan pun hanya bisa duduk di sampingnya dan terus membaca doa sebisa kami.

Lalu, aku mendekat kepada ibu pemilik rumah dan berbisik, memita tolong untuk dipanggilkan orang pinter yang bisa menangani Arfa. Mendengar permintaan saya, ibu itu langsung bergegas mencari pertolongan.

Melihat kejadian ini, saya langsung teringat dan tersadar, bahwa mungkin ini semua terjadi karena Arfa melanggar larangan untuk naik ke puncak Sindoro.

Tak lama kemudian, Arfa terdiam. Dengan mata yang terpejam, tangannya bergerak menyapu seluruh badannya. Seakan membuang sesuatu dari tubuhnya.

Jaza dan Arafah hanya bisa menangis sesenggukan melihat temannya seperti itu. Aku yang melihat tingkah Arfa kembali teringat sesuatu. Ya, Arfa memang punya kelebihan. Dia sensitive terhadap hal-hal tak kasat mata. Bahkan bukan hanya kali ini makhluk halus mengganggunya.

Anehnya, kali ini sangat berbeda. Berkali-kali Arfa seperti mencoba menyingkirkan dari tubuhnya, makhluk itu masih terus mengganggu. Bahkan sampai membuat Arfa kembali berontak dan berteriak histeris.

Dia Menginginkan Pendaki Itu

Selang beberapa waktu, akhirnya datang seorang pemuda dengan mengenakan sarung dan songkok hitam menghampiri kami.

“Habis darimana mas ?” tanyanya kepada saya.

“Dari sindoro mas”

“Nha pulangnya kemana ?” tanyanya dengan begitu tenang.

“Pekalongan mas, tolong teman kami mas” jawabku sembari meminta beliau untuk membantu Arfa.

Pemuda itu kemudian menghampiri Arfa dengan membawa segelas air putih yang ia bacakan do’a-doa. Lantas, air itu ia basuhkan ke wajah, tangan serta kaki Arfa. Suasana mulai sedikit lebih tenang.

Tiba-tiba Arfa mulai berbicara. Tapi, bukan kepada kami. Sepertinya dia mencoba berinteraksi dengan makhluk yang mengganggunya.

“kenapa kamu mengganggu kami ?, tidak terima kenapa ?, iya maaf, saya mohon maaf atas kesalahan saya” setidaknya itulah kalimat kalimat yang muncul dari mulut Arfa. Entah apa yang dikatakan si makhluk itu.

Saya mulai menerka-nerka. Jadi ini masalahnya. Ternyata, jin penghuni Gunung Sindoro tidak terima atas kesalahan yang telah kami lakukan. Do’a-do’a terus kami panjatkan agar tidak terjadi apa-apa dengan Arfa.

“Mau kamu apa ?” lagi-lagi Arfa seperti melakukan percakapan dengan makhluk itu. “Tidak mau, tidaaaak” Arfa berteriak dengan lantang.

Suasana yang tadinya sudah cukup tenang kembali tegang. Rupanya, jin tersebut tidak mau memaafkan kami, dan menginginkan Arfa untuk ikut bersamanya, yang berarti jiwa Arfa tidak dapat diselamatkan (mati).

Arfa terus berteriak menolak dan memberontak. Pemuda it uterus membacakan do’a dan kembali membasuhkan air ketubuh Arfa. Tanpa diduga, pemuda tersebut justru terpental kebelakang. Saya yang memegang tangan Arfa mulai kelelahan karena dia terus memberontak.

“Maaf, maafkan kami” tutur Arfa dengan air mata yang berlinang dari matanya. Jadi, Arfa ini kadang menjadi dirinya sendiri, kadang berubah menjadi makhluk yang merasukinya.

Ritual Permintaan Maaf

Setelah terpental dan merasa tidak mampu menanganinya, pemuda tersebut berdiri dan berjalan keluar. Di luar nampak ramai warga yang melihat kejadian ini.

Dalam kondisi ini, saya benar-benar merasa sangat bersalah. Bagaimana tidak, saya yang dipasrahi oleh ibu Arfa sebelum pendakian untuk menjaga dan melindunginya. Dan kini saya benar-benar merasa tidak berguna.

Tiba-tiba tangan Arfa kembali bergerak dan menunjuk kea rah Jaza. Ia pun nampak ketakutan bercampur bingung. Entah apa yang dimaksudkan. Sepertinya Jin ini menginginkan pengganti Arfa atau apa saya tidak tahu.

“Jangan, jangan ganggu mereka, saya yang salah” teriak Arfa yang kemudian kembali mengusap-usapkan tangannya ke badannya untuk menetralisir tubuhnya. Barulah Arfa kembali tenang dan terpejam.

Kemudian datang seorang paruh baya dengan pakaian serba hitam menghampiri kami seraya berkata “Yang sabar yam as, nanti saya usahakan” dari perkataan dan tampilannya, sepertinya dia bukan orang sembarangan. Saya pun hanya bisa menjawab “Nggih pak”

Orang tersebut kemudian melihat keadaan Arfa dan memegang kepalanya sambil membacakan do’a-do’a. suasana pun kembali lebih tenang. Lalu, bapak tadi mengambil kopi dan dupa kemudian masuk ke salah satu kamar. Sepertinya bapak itu sedang melakukan semacam ritual atau apa.

Beberapa saat kemudian, si bapak kembali menghampiri kami dengan segelas air putih yang diminumkan kepada Arfa. Tapi, bukannya Arfa ini sadar, dia malah tambah berontak dan terus berteriak histeris tidak karuan.

Saya benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan. Saya hanya bisa berdoa dalam hati, “Ya Tuhan, seberapa fatal kesalahan kami, kami mohon perlindungan dan jalan keluar kepada-Mu”.

Bapak paruh baya itu kembali masuk ke kamar dan melakukan ritualnya lagi. Nah, saat itu, tercium bau kemenyan atau sejenisnya. Terhitung orang itu melakukan ritual keluar masuk kamar sampai tiga kali. Dan Alhamdulillah, setelah ritual yang ketiga, Arfa sadar dan mulai bisa berkomunikasi dengan kami.

Permintaan Maaf Yang Diterima

Meski Arfa terlihat masih sangat lemas, namun kami sudah merasa lebih tenang sekarang.

“Gimana mbak, sudah ringan ?” tanya bapak itu kepada Arfa.

“Lumayan pak” jawab Arfa lirih.

“nanti dibasuh dulu ya mbak badannya biar bisa sampai rumah” kata bapak itu sambil meminta Arfa keluar menuju ember berisikan air kembang yang sudah disiapkan oleh si bapak.

Setelah itu Arfa menuruti permintaan si bapak. Meski dalam keadaan yang cukup ramai, namun ini semua demi kebaikan kami semua. Hati saya mulai lega. Kami sadar kami salah. Tapi kami bersyukur, Allah masih memberikan pertolongan kepada kami.

Selesai membasuh badannya, Arfa mengganti bajunya dengan pakaian kering. Setelah keadaan benar-benar sudah kondusif, kami melanjutkan perjalanan pulang. Kami sangat berterima kasih kepada warga semuanya yang telah menolong kami.

Sebelum perjalanan, saya berpesan kepada semuanya untuk tetap berdoa dan bershalawat. Sekitar pukul setengah satu dini hari, kami melanjutkan perjalanan menuju Pekalongan dan sampai rumah kurang lebih pukul 2 pagi.

Alhamdulillah, kami sampai rumah dengan selamat.

Setelah kejadian itu, anehnya, kami yang masih sering melalui jalan tersebut, tak pernah menemui rumah dan ibu-ibu yang menolong kami. Entahlah, tapi kami benar-benar bersyukur bisa melalui kejadian tersebut.

Pelajaran penting dari kejadian ini adalah bahwa kita sebagai pendaki harus senantiasa mematuhi aturan dan semua ketentuan ketika mendaki gunung. pendaki ibarat tamu. Jangan sampai kejaddian ini menimpa kami lagi, atau kalian semua pada pendaki.

untuk para pendaki, tetap patuhi semua aturan, hormati alam. Salam Lesatari untuk seluruh pendaki di Indonesia.

#Riski dan kawan-kawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.