Kisah Pendaki Yang Melanggar Larangan Gunung – Bagian 2

Sebelumnya di kalantur.com ….

“Kamu kenapa yu ?”

“Gak tahu, rasanya kaya ada yang narik kebelakang”

“Yang bener, siang bolog loh ini, perasaan kamu aja kali ?”

“sudah-sudah, lebih baik kita lanjutkan perjalanan”

Kamipun kembali melanjutkan perjalanan menuju pos 3. Vegetasi pun mulai berubah, yang awalnya hutan dengan pohon-pohon besar, berubah semak-semak terbuka. Gunung Sumbing di seberang masih setia menemani perjalanan. Sampai akhirnya kami tiba di pos 3 dan istirahat sebentar untuk kemudian menuju sunrise camp.

Baca Juga : Kisah Pendaki Yang Melanggar Laragan Gunung – Bagian 1

Sekitar pukul 15.00 wib, kami sampai di Sunrise Camp dan langsung mendirikn tenda. Suasana di sana cukup ramai oleh tenda-tenda pendaki. Setelah tenda berdiri, kami memutuskan untuk melaksanakan shalat dan makan sembari menikmati langit jingga dari atas ketinggian. Suguhan Tuhan yang menakjubkan.

Kehangatan sore itu membuat kami hanyut dalam suasana. Hingga tak terasa malam telah jatuh dalam dekapan. Dingin yang memeluk erat, membawa kami untuk merapat ke rombongan di sebelah untuk menghangatkan badan. Bercengkrama di antara jilatan api unggun yang berwarna mirip dengan rembulan malam itu.

Pendaki Itu Tertusuk

Malam kian padam. Jam tangan sudah menunjuk angka 9. Para perempuan memutuskan untuk beristirahat. Sedang kami, para lelaki, masih menghabiskan rokok dan kopi yang mulai dingin namun sayang jika dibuang.

Kepulan asap yang menggumpal dari mulut, tiba-tiba dikaburkan oleh jeritan dari dalam tenda Arfa.

“Ris, Riski” teriak salah satu teman memanggil saya. Bergegas saya lari memastikan apa yang terjadi. Terlihat Arfa di dalam tenda dengan wajah yang sangat pucat dan susah diajak komunikasi. Rupanya suhu dingin di sini menusuknya. Arfa terkena gejala hipotermia.

 Melihat hal tersebut, dengan segera kami menyelimutkan Sleeping Bag dan apa saja yang bisa kami gunakan untuk menghangatkannya. Minuman hangat pun kami terus berikan untuk menyelamatkan Arfa.

Suasana Pendakian Gunung (Sumber Foto : Riska Diana)

Sampai kurang lebih hampir satu jam, Arfa mulai membaik dan kembali sadar. Jarum jam menunjuk angka 11. Arfa sudah kembali tertidur. Kami para lelaki pun memutuskan untuk kembali ke tenda kami, beristirahat untuk summit esok hari.

Saya belum bisa memejamkan mata. Suasana yang sunyi membuat semua suara terdengar begitu jelas. Mulai dari jangkrik, hewan malam, bahkan suara angin yang berhembus pelan menerpa dedaunan dan ranting-ranting pohon.

Hingga tiba-tiba, sayup-sayup terdengar “klinting-klinting” seperti lonceng yang bergetar. Perasaan yang campur aduk mulai hinggap dalam pikiran. Saya mencoba menenangkan diri dengan berfikir, “Mungkin itu pendaki yang baru sampai” hingga suara itu akhirnya hilang dan saya terlelap.

Pendaki Itu Tak Mau Mendengarkan

Tak terasa sudah pagi lagi. Sekitar pukul 4 kami bangun untuk persiapan summit menuju puncak. Udara benar-benar menusuk tulang.

Sesuai kesepakatan awal, hanya kami berenam yang akan mendaki ke puncak. Sedangkan Arfa dan Dina yang sedang datang bulan tetap mennunggu di tenda. Suasana yang cukup ramai sedikit membuat perasaan saya cukup tenang untuk meninggalkan mereka berdua. Kami pun memulai perjalanan menuju puncak tanpa Arfa dan Dina.

Mulanya, pendakian terasa baik-baik saja. Punggungan demi punggungan kami lewati bersama dengan cahaya matahari yang mulai menyapa. Sampai pada pos 4, Watu Lawang, kami menyempatkan istirahat dan mengambil gambar. Dan tiba-tiba, kami dikagetkan dengan kedatangan Arfa dan Dina dari balik batu.

“Loh, kalian kenapa nyusul kesini ? kan sudah kubilang, kalian nggak boleh naik” tanyaku sedikit kesal.

“Nanggung banget soalnya, puncak udah keliatan dari bawah” jawab Arfa dengan wajah tanpa dosa. Sedang Dina memilih untuk diam.

“Terus mau ke puncak beneran ?” tanyaku memastikan

“iya dong, gapapa yah” jawab Arfa dengan masih tanpa merasa bersalah sedikitpun.

Saya yang ketika itu sedikit merasa kesal dengannya yang melanggar larangan untuk naik, akhirnya mau tidak mau membiarkan. Sebab, tidak tega juga kalau harus menyuruh mereka turun lagi. Dengan bercampur rasa takut, saya berharap tidak akan terjadi apa-apa. Hingga akhirnya kami melanjutkan perjalanan ke puncak.

Sekitar pukul 7.00 kami sampai di puncak Sindoro. Benar-benar luar biasa. Rasa lelah selama perjalanan terbayarkan dengan pemandangan yang begitu indah. Kami memuaskan diri dengan berfoto dan bersenda gurau. Sampai di sini semua masih baik-baik saja.

Setelah puas di puncak, kami kembali ke tenda untuk sarapan. Waktu itu pukul 10.00 kami sudah sampai di tenda. Masih pagi memang, tapi matahari sudah hampir tak terlihat dari sini. Sekitar pukul 1.00 siang kami bergegas beres-beres dan turun.

Seperti Ada Yang Mengikuti

Perjalanan turun terasa berbeda. Kabut tebal dan dingin yang menyelimuti menambah keheningan. Badan yang letih, serta jalanan yang terjal menurun, memaksa kami untuk mengurangi candaan. Tanpa aba-aba, semuanya memilih diam dan focus dengan jalan.

Wahyu dan Mustofa yang berjalan di depan, seketika menghilang. Nampaknya mereka berjalan cepat untuk segera beristirahat. Pikirku, sudahlah, biar mereka duluan. Sedang saya memilih berjalan di belakang, membuntuti teman-teman perempuan yang berjalan pelan.

Kabut masih menyelimuti. Suasana hutan yang cukup gelap beserta udara dingin membuat perasaan semakin tidak nyaman. Sesekali saya tengok kanan kiri untuk memastikan keadaan. Dan berusaha tidak memedulikan pikiran saya.

Akhirnya kami sampai di post. Banyak pendaki dan tukang ojek yang biasa mengantarkan pendaki menuju base camp dan sebaliknya. Karena badan yang sudah lelah, kami memutuskan naik ojek menuju base camp untuk meringankan beban tubuh dan tenaga.

Meski sudah sampai di keramaian, namun ada keheningan yang mengikuti. Bahkan saya merasa ada sesuatu yang lain. Tapi, melihat teman-teman yang nampak fun-fun saja, saya memilih untuk tidak membicarakannya dan menganggap semua baik-baik saja.

Kami sampai di base camp dengan waktu yang sudah petang menjelang maghrib. Wahyu dan Mustofa nampak sudah di sana. Meregangkan badan.

Mengingat besok harus kembali bekerja, kami segera membersihkan diri, shalat, makan dan pulang malam itu juga. Supaya bisa beristirahat di rumah dan bangun dengan bugar untuk bekerja.

Selepas shalat maghrib, ada yang tidak beres dengan Arfa. Saya memerhatikan, dia melamun sendirian. Perasaan tidak enak saya yang sebenarnya sudah hampir hilang kembali memenuhi pikiran saya.

“Hey, Fa. Kenapa ? melamun aja. Gimana pendakiannya ?”saya mencoba memecah lamunannya.

“Gapapa, Sindoro indah, Alhamdulillah sampai puncak” jawabnya dengan nada yang datar dan sunggingan senyum yang dipaksakan.

“Udah ayok beres-beres trus pulang”

Saya masih terus memerhatikan Arfa. Ada yang aneh dengannya. Semoga baik-baik saja batinku. Selesai beres-beres, kami langsung pulang menuju rumah kembali.

Bersambung ke bagian 3….

2 thoughts on “Kisah Pendaki Yang Melanggar Larangan Gunung – Bagian 2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.