Kertanegara, Si Cerdik Penghina Kekaisaran Mongol – Bagian II

“Bukan tidak mungkin bahwa ancaman Mongol adalah penyebab obsesi Kertanagara terhadap perkara-perkara luar negeri. Hanya ada satu cara untuk menentang ancaman Mongol pada saat itu mempersatukan kekuatan-kekuatan Asia Tenggara, dan itulah jalan yang dipilih Kertanagara. Tapi, bagaimana cara dia melakukannya saat itu…. ?”

Hari ini kita akan melanjutkan bahasan mengenai kartanegara, klantres yang budiman.

Dalam kondisi politik yang sedemikian rupa, mungkin jika itu Kita, di zaman ini, punya jawaban siap saji untuk pertanyaan seperti itu. Misal nya Kita adakan persekutuan politik yang kemudian diperkuat dengan perjanjian militer.Bahkan kalaupun Kertanagara dapat memikirkan metode seperti itu, bahkan kalaupun gagasan itu tidak sama sekali asing bagi zamannya dan lingkungan tempat dia hidup, itu akan terlalu rumit dan tidak efisien. Usaha bersama untuk memperkuat pasukan pertahanan, dengan tujuan memusatkan alat-alat pertahanan secara strategis dan didukung oleh kebijakan yang terkoordinasi, hal itu adalah fenomena jarang dalam sejarah sebelum abad ke-18, dibelahan dunia manapun pada saat itu.

Namun, ada dua jalan lain yang bisa dipilih Kertanagara untuk mencapai tujuannya.

Dia bisa mencoba membuat kerajaannya sekuat mungkin dengan memperlemah kerajaan tetangga dan kemudian menaruh kepercayaan pada jarak luar biasa yang memisahkan wilayahnya dengan pelabuhan-pelabuhan Mongol, atau Kertanagara bisa menggabungkan kekuatan pribadinya, yaitu tenaga dalamnya, dengan tenaga pihak lain, dan meningkatkan kekuatan gaibnya dengan melakukan ritual-ritual ilmu gaib yang dikenal di negeri-negeri lain. Kekuatan spiritual gabungan dari raja-raja yang bersekutu tersebut lantas bisa menyamai kekuatan Kublai Khan agung, yang keberhasilannya menakjubkan itu tentu saja tidak dianggap akibat kelemahan ekonomi dan sosial dari pihak yang kalah,tapi akibat kualitas suprainsani Khan itu, yang dia warisi dari nenek moyangnya atau yang dia peroleh sendiri. Karena itu, Kertanagara bahkan bisa berbuat lebih baik lagi dia dapat menimba suatu jenis ilmu gaib yang kabarnya diperoleh Kublai sendiri. Sedikit bukti yang kita punya, memungkinkan suatu rekonstruksi fakta yang sesuai dengan salah satu dari kedua cara itu.

“Ada patung Kertanagara yang tampak seperti Buddha sedang bermeditasi, ditemukan di Majapahit, dan kini ditempatkan di alun-alun kecil di kota Surabaya. Orang Jawa, menyebutnya “Jaka Dolog”, yang berarti “jejaka gendut”.”

Prasasti pada patung itu mengatakan bahwa ia didirikan “demi raja dan keluarga istana, dan kesatuan kerajaan”. Patung ini dikatakan didirikan persis di mana menurut tradisi Bharada, saat pendeta besar itu pernah hidup. Jadi, Kertanagara mendirikannya sebagai bagian dari kekuatan gaib penolak yg ingin ia pakai untuk menghilangkan akibat jahat dari pembagian Bharada atas negerinya.

“Patung lain dengan prasasti ditemukan di Sumatra di daerah Jambi, di utara Palembang.”

Di sini, kerajaan Malayu kuno yang pernah kita dengar pada awal-awal sejarah Indonesia, tampaknya telah hidup kembali pada abad ke-12. Patung itu datang dari Jawa dan didirikan di sana, di kaki pegunungan di jantung Sumatra, entah sebagai tanda kemenangan dari Kertanagara, atau sebagai hadiah kepada penguasa Sumatra yang mau diajak kerja sama oleh raja Kertanagara. Kita tidak tahu bahwa pasukan kerajaan Jawa, entah mereka sebagai duta damai atau pasukan perang saat itu , membawa pulang bersama mereka sang putri Sumatra.

Kita juga tahu bahwa Kertanagara mengawini seorang Putri Champa (Champa = Vietnam bagian selatan), salah satu negeri yang paling terancam oleh serbuan Tentara Mongol. Dikitab nya juga Mpu Prapanca mengklaim bahwa untuk sementara ini Jawa telah berhasil berkuasa kembali di Bali pada saat itu. Ini agak meragukan.. Bagaimanapun kita menafsirkan bukti-bukti, gambaranKertanagara selalu muncul sebagai seorang penguasa yang luar biasa, seorang yang punya visi dan punya pemahaman luas akan dunia luar lebih dari raja Jawa lain sebelum dia, sejak masa pembangun Borobudur.

Menurut teori lain Kejatuhan Kertanagara (mungkin pada 1292) terjadi tiba-tiba dan tidak terduga. Seorang penguasa Jawa lain, Jaya-Katong ( Jaya Katwang ) dari Kediri, menyerbu Keraton dengan tiba-tiba ketika sang raja sedang terbenam dalam latihan gaibnya. Singasari lenyap begitu saja seperti kebangkitannya. Tapi kemunculan kembali Kediri sebagai pemimpin di antara penguasa-penguasa Jawa tidak berlangsung lama. Daaaaan to be continued……

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.