Hari Santri Nasional 2020 : Santri Melawan Penjajahan Model Baru

Pada tahun 2015 lalu telah ditetapkan, Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 tentang penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Kata ‘Santri’ selalu diidentikkan dengan salah satu ormas keagamaan Islam Nahdlatul Ulama (NU) atau mungkin seperti itu yang dipahami sebagian orang, padahal tidak se-eksklusif itu kawan klanters! .

(Kalau produk Kemeja Hari Santri memang NU yang punya sih, tapi kita gak membahas fashion dan bisnis dulu lho ya, kalau ada yang mau nulis fashion atau bisnis boleh kirimkan tulisannya, ke sini.)

Santri dalam pemahaman saya adalah seseorang yang sedang dalam fase menuntut ilmu tanpa lepas dari nilai-nilai keislaman dalam prosesnya. Artinya, mereka atau mungkin kita yang dalam tahap ini masih belajar tentang apapun, dengan siapapun, dengan tetap berlandaskan “minimal” adab mencari ilmu dalam islam.

Bukan berarti saya menghilangkan keistimewaan para santri yang belajar di Pondok Pesantren dengan menggeneralisir definisi “Santri”. Dimana pada umumnya sering dipahami ‘santri’ sebagai seseorang yang mempelajari ilmu agama kepada kyai atau seseorang yang belajar dipondok pesantren.

Logika saya, belajar atau menimba ilmu adalah kewajiban, dimana dalam prosesnya ada tholib (santri/siswa/murid), ada mudaris atau mualim (pengajar baik itu guru, ustad maupun kyai) yang mengajar secara langsung (tatap muka) maupun tidak langsung (via daring atau buku yang ditulis oleh seseorang).

Singkatnya, ada dua pelaku dalam proses belajar yaitu pencari ilmu dan Sumber ilmu. Sumber ilmu ini, baik itu kyai maupun non-kyai berhak mendapatkan hormat —dalam hal ini saya katakan sebagai— santri (pencari ilmu). Ketika seorang pelajar dapat menghargai dan menghormati atau bahasa santrennya “ngajeni” gurunya, maka ia dapat dikatakan sebagai santri. Sehingga dalam perkembangannya sekarang ini muncul istilah santri mbeling, santri ndalan, santri keplek dan santri-santri unique lainnya.

Perlu diingat sejarahnya, mengapa kemudian tanggal 22 Oktober ini diperingati sebagai hari santri. Jadi pade jaman dahuluuu….

Pada tanggal tersebut ditahun 1945, KH Hasyim Asy’ari (Pendiri NU) mengeluarkan fatwa yang disebut sebagai Resolusi Jihad, yang berisi perintah berperang menolak dan melawan penjajah itu fardhu ain bagi setiap orang Islam di Indonesia. Selain itu disebut pula muslimin yang berada dalam radius 94 km dari posisi kedudukan musuh wajib ikut berperang.

Bentuk perlawanan terhadap penjajah sebagai jihad artinya jikapun seorang muslim gugur dalam medan perang maka matinya syahid.

Sehingga, peringatan Hari Santri ini tidaklah benar jika diperingati hanya oleh kelompok tertentu. Melainkan oleh seluruh masyarakat Indonesia pada umumnya, hal ini sebagai upaya untuk mengingat perjuangan para pejuang sebangsa dan setanah air dahulu kala, dan khususnya diperingati oleh kaum muslimin se-indonesia , sebagai upaya untuk mengingat perjuangan para cendekiawan muslim, sekaligus sebagai cerminan bagaimana Santri (kita) melawan penjajahan model baru di Negeri Indonesia tercinta ini. Salam mager, dan selamat mbatin!

Akhnan

Calon Presiden yang hobi nulis, sekaligus calon menantu dari calon mertuaku yang entah dimana berada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.