Hari Anak Perempuan se-Dunia, kembali ke jaman Jahiliyah

Salam klanters! Salam juga bapack- bapack hebat yang punya putri kecil menggemaskan atau mungkin sudah beranjak dewasa. Salam calon ibu mertua semoga kita bisa cepat ketemu. Tidak bermaksud macam-macam, cuma ingin mengingatkan bahwa hari ini adalah hari Anak Perempuan se-Dunia, atau Girls International day.

Akhir-akhir ini sempat miris —saya. Ketika mendengar berita pelecehan seksual kepada anak perempuan, meskipun juga tidak sedikit anak laki-laki yang menjadi korban. Hari peringatan ini dicetuskan untuk mengingatkan atau lebih tepatnya menyadarkan kita semua tentang ketidaksetaraan gender yang masih terjadi di dunia. Iya, di dunia tidak cuma di Indonesia.

Sadar atau tidak bentuk ketidaksetaraan gender masih sering dilakukan. Kita semua tahu bahwa ketidakadilan ini, telah melampaui ruang dan waktu —wush. Maksudnya jika diruntut dalam sejarah, ketidaksetaraan adalah praktik Jahiliyah atau stupidness. Ketidaksetaraan gender sudah ada sejak tahun sebelum Hijriyah (610 M). Kita sering mendengar pelajaran sejarah islam yang menceritakan betapa beratnya perjuangan nabi Muhammad SAW, melawan ketidaksetaraan gender.

Pembunuhan terhadap bayi perempuan hingga praktek human trafficking di Arab pada zaman Jahiliyah. Lebih hebatnya, dimasa yang sedemikian rupa beliau (Nabi) mampu membesarkan dan mendewasakan putrinya yang bernama Fatimah Az-zahra sebagai seorang yang namanya dikenal diseluruh dunia dengan kepribadiannya yang luhur.

Di Indonesia kita mengenal ibu kita kartini, atau R.A Kartini Djojo Adhiningrat sang puteri sejati, puteri indonesia harum namanya. Ia memperjuangkan keadilan pendidikan, dimana pada waktu itu tidak diijinkan bagi perempuan untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Perlawanannya dilakukan sejak umur 12 tahun, bayangkan anak 12 tahun sekarang dihadapkan dengan posisi itu —yeayy gaperlu sekolah, gapusing PR.

Singkat cerita perjuangannya membuahkan hasil hingga kita merasakannya sampai sekarang, tamat.

Sebentar, namun yang sering kita lupa, ketika mendengar kata KOMNAS Perempuan,kita lupa menanyakan, dimana KOMNAS laki-laki ?, Mungkin semua laki-laki kuat sehingga tidak memerlukan perlindungan.

Ketika mendengar Kata KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) yang berada dalam bayangan kita adalah penganiayaan terhadap istri. Apakah memang semua lelaki jahat dimata wanita ?.

Justru dengan pemikiran demikian membuktikan ketidaksetaraan gender melampaui ruang, tidak hanya waktu. Dalam ranah kesadaran kita secara tidak sadar sering mendiskriminasi tidak hanya perempuan, namun juga laki-laki. Menganggap semua lelaki itu kuat, lihatlah kawan saya yang rapuh hatinya, yang tersakiti, yang insecure karena merasa tidak goodlooking.

Entah pembahasan saya mengenai kesetaraan gender ini ngelantur sampai kemana. Yang jelas, semakin kesini semakin rumit. Maka, bapack-bapack dan ibu-ibu yang saya cintai dan sobat klanters semuanya, bijaklah sejak dalam pikiran. Jangan seperti saya yang merasa tampan karena percaya banyak yang lebih tidak tampan dari saya. Akhir kata, sampai jumpa klanters !

Oleh : Akhnan

Akhnan

Calon Presiden yang hobi nulis, sekaligus calon menantu dari calon mertuaku yang entah dimana berada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.