Didemo Mahasiswa, DPRD Kabupaten Pekalongan Menerima Namun Menolak

Menjadi mahasiswa merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi pemuda. Menjadi mahasiswa berarti mereka tergolong kaum intelektual yang dianggap mampu untuk mengkritisi berbagai hal, tanpa terkecuali kebijakan pemerintah. Dengan kata lain mahasiswa memiliki kapasitas untuk bersikap dan berpihak.

Seperti yang akhir-akhir ini terjadi, aksi demonstrasi mahasiswa sedang marak dilakukan, hal itu adalah wujud perlawanan mahasiswa atas hasil kinerja DPR RI yang mengesahkan UU Omnibus Law Klaster Ciptaker dalam masa pandemi, yang dirasa prosesnya sangat tertutup dan sangat merugikan kaum Pekerja (buruh).

Dengan berbekal semangat muda yang membara, diskusi panjang dilakukan oleh warga Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Pekalongan.

Segenap warga pergerakan baik anggota maupun kader yang tergabung dalam naungan PC PMII Pekalongan mengelar aksi unjuk rasa di Gedung DPRD Kabupaten Pekalongan(14/10/20). Aksi tersebut dilaksanakan lantaran Surat Cinta yang dilayangkan oleh Mahasiswa untuk Audiensi tak terbalas oleh Dewan Perwakilan Rakyat yang terhormat.

Kebebasan berekspresi pun ditunjukkan dalam aksi unjuk rasa tersebut. Mulai dari orasi yang menggetarkan hati, lagu-lagu perlawanan dan perjuangan, drama dan do’a digelar oleh masa aksi. 

Namun sayang, setelah berjam-jam melakukan aksi tak ada apresiasi muncul dari dewan yang dituju. ~Mbokya  keluar, ini diluar mahasiswa ingin bersua!

Merasa dikecewakan karena DPRD Kabupaten Pekalongan tak kunjung menampakkan kegagahannya, mungkin bingung karena baru pertama kali —DPRD kabupaten— didemo atau mungkin sedang bernostalgia melihat demo mahasiswa. Atau sedang sibuk memikirkan rakyat dengan segala problematikanya —entahlaa. Akhirnya para masa demostran pun mengakhiri aksinya dan ditutup dengan do’a bersama yang diipimpin oleh korlap aksi yang bersarung dan berpeci —seriusan.

Akhirnya masa aksi yang notabene adalah mahasiswa islam indonesia bergegas menuju masjid alun-alun Kajen untuk melaksanakan sholat berjamaah. Tak lama setelah sholat tiga mobil berplat merah menghampiri ke masjid, bukan untuk jadi ma’mum masbuk melainkan untuk mengajak demonstran duduk bersama, tidak lain dan tidak bukan mereka adalah anggota dewan.

Jujur saja sebenernya mager  sekali untuk meng-iya-kan ajakannya —kenapa gak dari tadi, kenapa pas gue udah pergi lu baru ngejar gua— tapi karena yahh, sebagai mahasiswa juga harus memiliki nilai tata Krama yang baik, maka ditemuilah DPRD tersebut untuk menyambit menyambut i’tikad baik dewan terhormat tersebut.

Dalam pidatonya yang sangat bijaksana dan bijaksini. Ketua DPRD mengatakan bahwa menerima Aspirasi Mahasiswa namun menolak menandatangi nota kesepahaman.

Untuk menenangkan masa, janji seribu janji DPRD Kabupaten Pekalongan pun terlontarkan, bahwa akan mengkaji usulan dari PC PMII Pekalongan dalam jangka waktu 7×24 jam. ~Yokkk diulur yoook!

Terpaksa percaya pada janji, demonstran mengecam jika selama hitungan 7 x 24 jam —sampai rabu depan berarti— belum ada keputusan, maka masa aksi akan kembali ke gedung DPRD Kabupaten Pekalongan untuk kedua kalinya. ~gak janji gak anarkis untuk yang kedua lho yaaa!

To be Continue..

Penulis : Lita

Kurator : Akhnan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.