Dia

Dia tertawa menahan luka, sore itu.
Aku terpana, antara kagum dan iba.
Dia menyadarinya, tawa memudar berganti senyum.
Aku menyesal —sempat mengiba—bagaimana bisa seseorang bisa mengasihani orang yang bahkan lebih kuat darinya.
Yang ada sekarang, murni kekagumanku kepadanya, atau seperti itu yang kurasakan.
Aku berhenti menatapnya.
Siapa yang bisa memastikan ketetapan perasaan seseorang terhadap seseorang.
Bahkan aku sendiri, tentang perasaanku, aku takut itu akan berubah lagi.
Jadi suka, bahkan mungkin membencinya.
Maka, aku cukupkan perasaan pada kekaguman.
Titik teraman dalam pengakuan.
Dia wanita, ya, tentunya bukan satu-satunya yang kukagumi.
Tentunya, tidak semua kuingat, atau semua terlupa.
Bagaimana dengannya nanti?, entahlah.
Selama aku tak menyakitinya, bukankah lebih baik begitu?.
Bagaimana perasaanya?
Apakah aku harus mengetahui?
Untuk apa?
Apa memang harus semua lelaki menampakkan kegagahannya?
Berani mendekati setiap wanita yang menarik dimatanya?
Lalu mencampakkannya ketika tak sesuai harapannya?
Sayangnya, aku tak seberani itu, tak segagah mereka.
Apakah aku tak pernah benar-benar menyukai seseorang?
Tentu saja ada, apakah perlakuanku terhadapnya sama?
Tentu saja berbeda, perihal ini, akan kuceritakan lain waktu.
Tentu atas seijinnya.

Akhnan

Calon Presiden yang hobi nulis, sekaligus calon menantu dari calon mertuaku yang entah dimana berada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.