Dendam Yang Terbalaskan – Bagian Akhir

Sebelumnya di kalantur.com : Kudeta Sukarama serta pembuangan anak Tumenggung, berujung pada pelarian Putri Intan dari kerajaan, sebab mendengar rencana Sukarama hendak membunuhnya. Tidak ada yang menyangka, dalam pelariannya, Putri Intan justru bertemu dengan sang putra yang berada dalam asuhan Patih Masih.

Dendam Kesumat Putra Raja

Setelah beberapa hari tinggal di Kampung Balandian, Putri Intan pun bertemu Kembali dengan putranya yang ternyata berada dalam asuhan Patih Masih.

Kira-kira 12 tahun kemudian, sepeninggal Putri Intan dari kerajaan, Sukarama mendirikan suatu istana di Kayu Tangi Martapura dan lalu berpindah ke tempat barunya tersbeut.

Sementara itu anak dari puteri Intan yg telah beranjak dewasa, telah banyak mendengar cerita-cerita ibunya tentang kejahatan Pangeran Sukarama. Akibatnya sang putra menjadi marah dan ingin membalas dendam atas kematian ayahandanya.

Anak dari puteri Intan bernama Raden Samudera. Dan demi membalas kematian ayahnya Raden Samudera berniat akan pergi ke jawa untuk meminta bantuan saudara ayahnya yaitu Sunan Serabut.

Pada waktu Raden Samudera berangkat ke Jawa, Sebagian besar raja-raja Jawa telah memeluk agama Islam. Usai bertemu dengan Sunan Serabut, Raden Samudera pun turut serta memeluk agama Islam, dan mendapat gelar Pangeran Suriansyah.

Setelah itu Pangeran Suriansyah pulang ke Kalimantan beserta beberapa ribu balatentara dari Sunan Serabut untuk menyerang kerajaan Kayu Tangi. 

Setelah sampai di Muarai Bandjan, sebelum mengadakan penyerangan, Pangeran Suriansyah mengirimkan seorang utusan kepada Pangeran Sukarama untuk memberi kabar bahwa Pangeran Suriansyah alias Raden Samudera, putera almarhum Pangeran Tumenggung, yang ketika itu masih bayi lalu di masukkan dalam peti dan di buang kesungai oleh pangeran Sukarama akan tiba di Kayu Tangi untuk melakukan penyerangan sebagai pembalasan atas perbuatan kejam Pangeran Sukarama terhadap almarhum ayahandanya.

Tanpa menunggu balasan dari pangeran sukarama, ia pun melakukan penyerangan. Sukarama beserta balatentaranya pun kalah. Akhirnya, Sukarama tertangkap, lalu dibuang ke Danau Salak. Semenjak itu, Pangeran Sukarama dan seluruh anak turunnya, tidak boleh menggunakan gelar Gusti atau Pangeran, dan hanya boleh menggunakan gelar Andin. Demikianlah, hingga saat ini, turunan Andin-Andin ada di Danau Salak dan Alai.

Di sisi lain, Pangeran Agung, Adipati Sukarama, yang mendengar berita penangkapan dan pengasingan Sukarama, melarikan diri ke daerah Barito. Dan kemudian menjadi cikal-bakal raja-raja Barito.

Menjadi Penyebar Islam Banjarmasin

Setelah memenangkan peperangan, dan membalaskan dendam ayahandanya, Pangeran Suriansyah Kembali ke Banjarmasin dan dilantik menjadi Sultan. Dialah Sultan Banjarmasin pertama yang memeluk dan mengenalkan Agama Islam di daerah Banjarmasin.

Sejak saat itu, kira-kira tahun 1590, agama Islam tumbuh subur dan berkembang di Banjarmasin. Sultan Suriansyah memerintah kerajaan yang kemudian berganti nama menjadi Kesultanan Banjarmasin sejak 1590 sampai tahun 1620.

Dirangkum dari buku “KALIMANTAN” cetakan 1953

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.