Demokrasi Bukan Islam ?

Salam klanters! Sudah buka twitter? kalau sudah, tahu khaaan top trend hastagnya #Demokrasibukanislam, cukup menarik bagi otak saya mendengar hastag tersebut. Namun terlalu mager bagi saya untuk menelusuri siapa yang mengawali hastag tersebut, apa motifnya dan tentunya ukhti mana saja yang numpang PAP (Post A Picture) ke-UwU-an di hastag tersebut hingga menjadi top trending.(15/10/20)

Yang membuat saya tertarik tidak lain adalah mengenai bahasan “demokrasi” dan “islam” yang dicantumkan secara bersamaan dengan kata hubung “bukan”. Apakah saya setuju? “ohh ya jelas, dan mengapa antum baru sadar sih hyung?”. Dari sudut pandang keilmuan sudah jelas beda antara demokrasi dan islam, kalau demokrasi itu sistem pemerintahan sedangkan islam ya agama, beda sudah!.

Tetapi kurang puas rasanya jika pembahasan hanya berhenti sampai disitu, namun persetujuan saya hanya sampai batas itu. Gambaranya seperti ini, misal kalimat “Manusia bukan Islam” atau “Kerajaan bukan Islam” atau “Rumah Sakit bukan Islam”. Saya setuju dalam pemaknaan secara lughowi/bahasa/filologi bahwa kalimat tersebut diatas benar karena dua hal yang berbeda dengan pengertian masing-masing yang berdiri sendiri dihubungkan dengan kalimat “bukan”. It’s okay i’m fine, how are you?.

Tapi beda cerita jika motif dari kalimat #demokrasibukanislam yang dimaksud adalah menggiring opini untuk menyatakan bahwa islam menolak demokrasi atau berusaha mengatakan bahwa demokrasi tidak sesuai/cocok dengan islam maka, saya berkata “tidak semudah itu ya bund!”. Setidaknya, perlu dikaji lebih jauh, sejauh jarak antara kita. ~kini semakin terasaaaa!

Demokrasi itu sendiri adalah produk manusia yang dapat direko (jawa: disesuaikan) mengikuti kebutuhan atau kebudayaan atau lebih ekstrem “kepentingan” sebuah negara. Sedangkan Islam sendiri adalah agama yang telah disempurnakan oleh Allah SWT untuk Nabi Muhammad dan kaumnya. Dengan kata lain, sebenarnya tidak ada variabel linier antara keduanya hingga dapat dibenturkan sebagai dua hal yang saling menolak untuk diamalkan secara bersamaan, atau secara sederhana Orientasi kedua kata tersebut berbeda. Bagaikan langit dan bumi ~Jauh men!

Islam sendiri yang kita pahami sebagai agama rahmatan lil ‘alamin sebenarnya punya ruang fleksibilitas yang cukup untuk dapat ber-akulturasi secara epic dalam konteks mu’amalah. Satu-satunya yang baku dalam Islam adalah masalah aqidah yang sama sekali tidak boleh kendor hyung!. Bahkan fiqh, yang kita kenal sebagai ilmu yang berisi kaidah-kaidah hukum islam pun nyatanya memiliki keluwesan tersendiri hingga sama sekali tidak memberatkan kaum muslim.

Lalu, tidak cukupkah ruang fleksibilitas dalam Islam tersebut untuk ber-akulturasi dengan sebuah sistem yang katanya dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat tersebut?. Jikapun ada satu atau dua hal kurang sesuai, bisakah itu menjadi alasan penolakan secara keseluruhan, jika secara parsial masih bisa diperbaiki mengikuti nilai-nilai islam.

Bank yang katanya riba saja bisa mu’allaf tanpa perlu bersyahadat. Apakah perlu saya buatkan demokrasi syariah?. Jika tujuannya mengganti sistem demokrasi dengan khilafah, ayolahh! jika memang yang Tuhan inginkan adalah khilafah dan manteman yakin akan itu, bukankah jika itu qadarullah semua akan khilaf pada waktunya?. Atau manteman tidak yakin atas kekuasaan Allah?. Mari Istighfar…!

Penulis : Akhnan

Kurator : Lita

Sumber Foto : Twitter @Keliex91

Akhnan

Calon Presiden yang hobi nulis, sekaligus calon menantu dari calon mertuaku yang entah dimana berada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.