Dapat Salam Dari Mbah Hamid Pasuruan, Wali Samud Wafat

Bagi Sebagian warga Kendal, Wali Samud mungkin sudah tidak asing di telinga. Kisahnya masyhur di kalangan muhibbin auliya’, terkhusus mereka yang menyukai kisah-kisah ganjil para kekasih Allah.

Samud adalah seorang yang dianggap gila oleh masyarakat Kendal dan Semarang. Kesehariannya beliau habiskan di pasar-pasar dengan pakaian serta tingkah laku yang persis seperti orang kurang waras. Meski demikian, beliau tidak pernah mengganggu orang di sekitarnya. Bahkan terkadang membantu membongkar muat barang-barang tanpa mau di kasih upah.

Menjelang malam, Wali Samud seringkali beristirahat di depan ruko-ruko di pasar yang ia singgahi. Tak jarang pula beliau diusir oleh pemilik ruko karena dianggap mengganggu. Namun, Wali Samud tak pernah marah.

Alkisah, suatu Ketika, ada tamu dari Kendal yang sowan keoada Mbah Hamid, Pasuruan. Tanpa disangka-sangka, Mbah Hamid menitipkan salam kepada Wali Samud. Tentu hal tersebut terasa janggal. Dan membuat tamu tersebut bingung.

Akhirnya, si tamu memberanikan diri untuk bertanya, “Maaf kaiai, bukankah  Samud itu adalah orang gila kiai ?”

Yang lebih membuat heran adalah jawaban dari Mbah Hamid. “Beliau adalah Wali Besar yang menjaga Kendal dan Semarang, rahmat Allah turun, bencana ditangkis, itu berkat beliau.” Begitu tutur Mbah Hamid. “Sampaikan salamku” pungkasnya.

Si tamu pun akhirnya pamit dengan masih memendam rasa penasaran. Bagaimana mungkin seorang yang ‘dianggap’ gila adalah seorang wali besar. Namun karena titah tersebut muncul dari seorang kiai sekaliber Mbah Hamid, si tamu tersebut tidak berani membantah dan tetap melaksanakan amanat tersebut.

Menemui Wali Samud

Sepulang dari Pasuruan, si tamu tadi pun mendatangi pasar di mana Wali Samud singgah. Menunggu keadaan pasar sepi, lalu mendatangi Samud, Orang yang ‘dianggap’ gila yang ternyata adalah shohibul wilayah Kendal dan Semarang.

“Assalamu’alaikum” sapa sang tamu.

Dengan wajah yang sedikit terkejut, Wali Samud memandanginya dengan ekspresi yang menakutkan layaknya orang gila sungguhan. Sampai ahirnya menjawab salam, “Wa’alaikumsalam, ada apa ?”

Selanjutnya, dengan masih sedikit gemetar, si tamu memberanikan diri untuk menyampaikan apa yang menjadi amanat dari Mbah Hamid.

“Panjenengan dapat salam dari Mbah Hamid Pasuruan, Assalamu’alaikum” katanya.

Mendengar hal tersebut, Wali Samud semakin terkejut. Dengan wajah agak geram, beliau berkata “Kurag ajar si Hamid. Aku berusaha bersembunyi dari manusia agar tida diketahui, malah dibocor-bocorkan” begitu katanya. “Ya Allah, aku tidak sanggup lagi. Kini ada yang tahu keberadaanku, dan tahu siapa aku. Aku mau pulang saja, nggak sanggup lagi aku hidup di dunia” lanjutnya dengan nada yang cukup tinggi.

Tak berselang lama, Wali Samud mengucapkan sebuah do’a dan menutupnya dengan kalimah syahadat “Laa Ilaaha Illallah, Muhammadurrasulullah”. Seketika itu juga, wafatlah Wali Samud di hadapan orang tersebut.

Wallahu a’lam.

Ibrah yang bisa kita petik dari cerita tersebut adalah bahwa kita tidak bisa memandang sebelah mata kepada siapapun. Berusaha memandang semua manusia adalah sama. Bahkan orang yang kita anggap gila sekalipun. Sebab, kita tidak pernah tahu, siapa yang lebih benar di hadapan Sang Pencipta.

Teruslah berusaha untuk memanusiakan manusia sobat !

Sumber : kisah yang dituturkan dari mulut ke mulut dan postingan Instagram @ala-nu