Siti Khotijah, Cahaya Islam Putri Dewata – Bagian II

Hello Sobat Klanters !!! kembali lagi kita bertemu di kanal kesayangan kita, Kalantur.com. Hari ini kita akan melanjutkan kisah putri dari pulau Dewata, Bali. Setelah kemarin kita bercerita tentang kepergian Siti Khotijah ke Madura bersama suaminya, nah sekarang kita bakal bercerita tentang kepulangan Siti Khotijah ke Pulau Bali.

Rindu Yang  Terobati

Lama tinggal di Madura,  kerinduan kepada ayahandanya, raja Pemecutan, mulai menjangkit di hati Siti Khotijah. Suatu ketika di kerajaan pemecutan akan ada upacara adat kekeluargaan.  Dan momentum ini pun menjadi kesempatan bagi Siti Khotijah untuk memohon restu kepada suaminya, agar Ia bisa melakukan perjalanan ke Bali guna melepas rindu dengan ayahnya. Cakraningrat IV yang terkenal sebagai raja yang bijaksana itupun memberikan izin kepada sang istri dengan mengirimkan 40 pengawal putra dan putri serta membekalinya dengan pusaka sebagai keamanannya.

Sampai di Bali, rindu Siti Khotijah akhirnya terobati. Ia bisa bertemu kembali dengan ayah yang sudah lama terpisahkan. “Sementara putri tidur di istana, keempat puluh pengikutnya berada di taman monang maning yang ada di 1KM sebelah selatan dari makam Siti Khotijah sekarang” cerita pak Mangku.

Siti Khotijah Dianggap Sesat

 Di suatu waktu maghrib, sebagai seorang muslimah yang taat, Siti Khotijah pun melaksanakan ibadah sholat maghrib sebagaimana kewajibannya. Siti Khotijah melaksanakan sholat maghrib di tempat suci kerajaan dengan mengenakan mukena dan menghadap ke barat/kiblat sebagaimana orang islam melaksanakan sholat. Sedangkan orang hindu atau orang Bali sendiri biasa melakukan sembahyang dengan menghadap ke timur.

Pada saat itu, rakyat pemecutan belum pernah melihat dan mengetahui bagaimana orang islam melaksanakan sholat. Melihat apa yang dilakukan sang putri, Patih kerajaan yang melihat hal tersebut segera melaporkannya kepada raja, karena menyangka bahwa putri kerajaan tersebut sedang melakukan pelepasan ilmu hitam atau rakyat Bali biasa menyebut dengan ilmu pengleakan. “jadi sebenarnya di Bali, leak itu adalah sebuah ilmu hitam. Nah karena Putri melakukan sembahyang dengan cara yang asing bagi rakyat pemecutan, maka mereka menganggapnya sedang melakukan ilmu pengleakan tersebut” jelas pak Mangku.

Mendengar berita dari sang patih, raja Pemecutan yang saat itu sedang sibuk menghadapi upacara besar langsung terkejut dan sangat murka. Dari kemarahannya itu, sang raja langsung memerintahkan patih kerajaan untuk membunuh putrinya karena di anggap sesat. Dengan membawa perintah dari sang raja, patih mengajak Siti Khotijah bersama dengan 40 orang yang terdiri dari laki-laki dan perempuan kesebuah tempat yang kini menjadi makam beliau. “Jadi, dulu tempat ini adalah makam hindu yang luasnya 11 hektar. Tapi sekarang sudah menjadi 9 hektar karena sudah ada jalan di pinggir kuburan.

Pesan Putri Jelang Kematiannya

Sampai di tempat tujuan, Siti Khotijah berkata dan berpesan kepada patih kerajaan. “paman-paman patih, sebenarnya saya sudah ada firasat dan sudah tahu kenapa malam-malam begini paman membawa Saya kesini. Saya sudah punya firasat bahwa Saya akan terbunuh. Tapi sebelumnya, perlu paman ketahui bahwa Saya, di tempat suci kerajaan, Saya sedang sembahyang, Saya sedang shalat menurut ajaran agama yang saya anut. Namun karena ini adalah perintah dari ayah Saya, raja sekaligus penguasa, maka laksanakanlah paman.” tutur pak mangku menirukan sang Putri.

“Tapi jangan sekali-kali paman bunuh Saya dengan senjata tajam. Karena tidak akan mempan untuk membunuh Saya. Sesungguhnya suami saya telah membekali saya dengan sebuah pusaka-Ia mengambil pusaka tersebut dari rambutnya-. Bunuhlah saya dengan melemparkan pusaka ini ke dada sebelah kiri Saya. Namun kembali Saya berpesan kepada paman. setelah paman bunuh Saya, maka akan keluar asap dari jasad Saya. Dan pesan Saya kepada paman, jika asap yang keluar tersebut berbau busuk maka tanamlah jasad Saya di sembarang tempat. Tapi jika asap yang keluar berbau harum, maka buatkanlah Saya sebuah tempat yang bernama keramat” begitu lanjut cerita pak Mangku menirukan sang putri.

Juru Kunci Makam Siti Khotijah
Pak Mangku, Juru Kunci Makam Siti Khotijah

Terbunuhnya Siti Khotijah

Setelah selesai menyampaikan pesan kepada patih kerajaan, Siti Khotijah kemudian menengadahkan tangan dan menyebut nama Allah tiga kali dan sang patih melempar pusaka tersebut tepat ke dada kiri sang putri. Dan benar, seketika setelah Siti Khotijah meninggal, muncul asap dari jasadnya yang berbau sangat harum. Seluruh komplek pemakaman yang mencapai 11 hektar tersebut penuh berselubung bau harum dari tubuh Siti Khotijah. Dari 40 orang yang menyertai patih banyak yang pingsan dan histeris melihat kejadian itu. Akhirnya, mereka memakamkan jasad Siti Khotijah di tempat tersebut dan sebagaimana permintaannya, nama keramat di sematkan pada tempat tersebut. Selesai memakamkan jasad Siti Khotijah bersama dengan 40 orang yang menyertainya, patih pun melaporkan kejadian yang baru saja terjadi kepada raja. Mendengar hal tersebut, raja syok dan sangat menyesali perintah yang Ia keluarkan.

Kemudian raja pemecutan memerintahkan I Gede Glogor dan istrinya Nini Moning, selaku kepala istana kerajaan pemecutan pada waktu itu dengan 2 pesan. “Yang pertama agar kakek saya dan seluruh keturunannya menjaga dan merawat makam Siti Khotijah, sebagai juru kunci atau pemangku. Yang kedua agar 40 orang yang mengiringi putri dari Bangkalan jangan boleh pulang. Beri mereka tanah untuk tinggal di Bali. Tanah tersebut sekarang terknal dengan kampung jawi terletak di Denpasar Utara dan kampung Muslim di Denpasar Selatan. Kedua tanah tersebut kemudian di wakafkan untuk tempat tinggal. Hingga kini sensus terakhir menunjukkan bahwa yang tinggal di daerah tersebut ada sekitar 18.000 jiwa. (tahun 2018) Disana hubungan antara hindu dan islam sangat harmonis, sudah seperti saudara kandung”cerita Pak Mangku.

Keramat Siti Khotijah

Keesokan harinya setelah mendapat pesan tersebut, I Gede Grogol bersama 40 orang tersebut membersihkan makam sang putri. Setelah di bersihkan dan di pagari, pada malam harinya tumbuh sebuah pohon tepat di atas makam dari Siti Khotijah setinggi kurang lebih setengah meter. “pagi harinya pohon tersebut dicabut oleh kakek saya. Tapi keesokan harinya sudah tumbuh lagi dengan tinggi yang sama, di tempat yang sama”cerita Pak Mangku. “kejadian tersebut terulang sebanyak 3 kali. Keempat kalinya kakek saya tidak berani mencabutnya. Akhirnya kakek bersama nenek saya melakukan tirakat di makam ini dan mendengar pesan dari Raden Ayu untuk menjaga dan merawat pohon yang tumbuh itu. Sebab pohon tersebut adalah pohon yang tumbuh dari rambut Putri Siti Khotijah. “Dari pohon tersebut akan datang rezeki dari Allah SWT bagi umatku yang berziarah kesini” begitu pesan dari putri” lanjutnya.

“sampai sekarang pohon itu masih Saya pelihara dengan baik, meski usianya sudah sangat tua” tandas Pak Mangku sebagai keturunan I Gede Grogol yang di pasrahi untuk memelihara makam tersebut. Oleh masyarakat, pohon tersebut di beri nama pohon rambut, sebab diyakini betul bahwa pohon itu tumbuh dari rambut Siti Khotijah. Pak Mangku kembali menjelaskan bahwa dari pohon itu memiliki satu keajaiban lagi. Dari daun yang jatuh, dua lembar saja, dengan mencuci dan merebusnya dengan dua gelas air, lalu meminumnya, ada khasiat bisa menyembuhkan segala macam penyakit. “ingat ya daun yang jatuh, kalo masih nyangkut di atas genteng jangan diambil. Sebelum minum juga jangan lupa minta pada yang Maha Kuasa supaya mendapat kesembuhan” jelas Pak Mangku.

Pohon Keramat Siti Khotijah
Pohon Keramat yang diyakini tumbuh dari rambut Siti Khotijah, hingga kini masih tumbuh subur tepat di atas makam Siti Khotijah

Memang salah satu wujud dari kesalehan seorang muslim adalah dia bisa menghidupi masyarakat meski sudah tidak lagi hidup bersama masyarakat. Setiap hari makam yang terletak di jantung kota denpasar ini selalu ramai oleh peziarah. Bahkan pada 24 Oktober 2014 sekali lagi kebesaran Allah terlihat di makam Siti Khotijah ini. Pada hari tersebut terjadi sebuah kebakaran di gudang makam keramat agung pemecutan. Semua busana Siti Khotijah yang tersimpan di gudang tersebut hangus habis terbakar. Pak Mangku, juru kunci makam, dalam kebakaran itu melihat satu cahaya yang sangat menyilaukan matanya. ia mendatangi cahaya tersebut, kemudian Ia ambil benda itu dan ternyata itu adalah Al-Qur’an yang tak terbakar. Hingga kini kitab suci itu masih terjaga dengan baik oleh Pak Mangku. Banyak pihak yang ingin memiliki kitab tersebut tapi pak Mangku tetap mempertahankannya.

Begitulah, di tanah Bali yang terkenal sebagai tempat wisata yang mayoritas masyarakatnya adalah hindu, masih menyimpan juga cahaya-cahaya islam didalamnya. Kebesaran-kebesaran Allah pun sangat nyata adanya. Maha suci Allah dengan segala kebesaran-Nya.

Fine

Santri Tua yang belum kunjung menemukan pasangan hidup

One thought on “Siti Khotijah, Cahaya Islam Putri Dewata – Bagian II

  • 10 Februari 2021 pada 9:02 am
    Permalink

    gaweane dewe poan om?

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.