Cahaya Islam Putri Dewata, Siti Khotijah – Bagian I

Hello Klanters ! hemh,,, lama nggak jumpa nampaknya. Kali ini kita akan sedikit belajar tentang salah satu sejarah yang ada di pulau dewata bali. Hemh,,, sejarah apakah itu ? langsung saja yuks cus ah,,,

Pulau dewata Bali,  salah satu surga dunia yang sudah terkenal di seluruh dunia, dengan berbagai keindahan alam yang menjanjikan untuk disambangi.  Namun,  pulau yang terkenal dengan hinduisme yang masih sangat kental, ternyata menyimpan sebuah kisah seorang muslimah ahli ibadah yang bahkan dipercayai sebagai wali ketujuhnya pulau Bali.

Raden Ayu Siti Khotijah putri dari raja Pemecutan dengan nama asli Gusti Ayu Made Rai adalah putri kesayangan raja.  Gusti Ayu Alias Siti Khotijah memiliki perangai yang sangat cantik jelita.  Bahkan kecantikannya sangat tersohor di penjuru pulau Dewata, Bali. Karena kecantikannya itulah  tak sedikit pangeran dari kerajaan-kerajaan tetangga bermaksud meminang sang putri.

Namun nahas,  menjajaki masa remaja sang putri terkena penyakit yang tak kunjung sembuh.  Hampir semua tabib yang ada di Bali datang untuk menyembuhkannya.  Namun tak satupun dari mereka yang mampu menyembuhkan penyakit putri. Bertahun-tahun penyakit tersebut tak kunjung sembuh. Hingga membuat kegelisahan yang dirasakan ayahnya, raja pemecutan, semakin menjadi.  Akhirnya Raja melakukan pertapaan untuk mencari petunjuk dari Tuhan Yang Maha kuasa.  Dalam pertapaannya, Raja mendapatkan pawisik (bisikan dari Yang Maha Kuasa)  untuk memerintahkan para patih kerajaan menyiarkan sebuah sayembara.

Pengumuman sayembara ini tidak hanya tersiar di kerajaan Bali saja namun juga sampai di Madura dan beberapa kerajaan di Jawa. “Dalam sayembara tersebut sang raja menyatakan bahwa “barang siapa yang berhasil menyembuhkan putriku,  kalau dia laki-laki maka dia akan kunikahkan dengan putriku.  Kalau dia perempuan maka akan kujadikan saudari putriku”  kata Jro Mangku I Made Puger,  juru kunci makam Siti Khotijah.

Datangnya Sang Pangeran

Pada satu waktu pengumuman tersebut terdengar oleh seorang raja dari Bangkalan Madura yang beragama Islam.  Ia kemudian menitahkan putranya yang bernama Pangeran Cakraningrat IV untuk berangkat ke Bali dan mengikuti sayembara tersebut. Sebagai wujud bhakti terhadap ayahnya,  Pangeran Cakraningrat IV akhirnya berangkat menuju kerajaan Pemecutan di Bali untuk mengikuti sayembara tersebut.

Kedatangan Pangeran Cakraningrat IV di kerajaan pemecutan disambut baik oleh keluarga kerajaan. Akhirnya dengan beberapa mantra dari sang Pangeran Cakraningrat IV, penyakit Siti Khatijah seketika sembuh. Meski Cakraningrat IV memiliki agama yang berbeda dengan sang raja dan putri, namun raja Pemecutan tetap menepati janjinya. Cakraningrat pun menikah dengan putri pemecutan. “waktu itu usia Siti Khotijah masih 27 tahun dan Pangeran Cakraningrat IV sudah berusia lebih dari 55 tahun.  Sebab Siti Khotijah ini merupakan istri keempat dari Pangeran Cakraningrat IV” kata Jro Mangku I Made Puger yang lebih senang dipanggil pak Mangku.

Setelah resmi dipinang oleh Cakraningrat IV, Siti Khotijah kemudian dibawa suaminya menuju Madura untuk kembali ke kampung halaman sang suami. Di Madura Siti Khotijah kemudian memeluk agama Islam dan memperbaharui pernikahannya sesuai dengan ajaran islam. Selepas keislamannya, Siti Khotijah berubah menjadi seorang muslimah yang sangat taat beribadah. Ia tak pernah meninggalkan kewajiban-kewajiban sebagai seorang muslimah seperti sholat 5 waktu dan lain sebagainya.

To Be Continue……

Fine

Santri Tua yang belum kunjung menemukan pasangan hidup

2 thoughts on “Cahaya Islam Putri Dewata, Siti Khotijah – Bagian I

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.