Bukti Nyata Bahwa Wanita Itu ‘Wagu’

Wanita itu wagu (baca:aneh), entah dari segi manapun kau memikirkannya yang akan kau temukan adalah kewaguan. Bukannya mendiskriminasi wanita, tapi ya memang wagu, titik. Bagaimana tidak, hampir semua wanita mengerti bahwa semua lelaki itu gak peka, alias agak pekok kalo urusan kode-mengkode, tapi ya tetap saja laki-laki dipaksa menjadi barcode reader. Bukankah itu wagu, ibarat lelaki itu batu tapi disuruh mengapung, gabisa ya gabisa.

Pernah suatu ketika, seorang teman saya (cewek) curhat tentang pasangannya. Dia merasa cemburu dengan pasangannya yang punya banyak teman cewek disekitarnya. Kudengarkan curhatan panjangnya sampai akhir yang intinya cemburu dan gak mau pasangannya dekat dengan wanita lain, titik, dibumbui dengan pembelaan tentang dirinya yang juga punya banyak temen cowok termasuk saya, namun menurutnya berbeda.

Katanya “kalo aku kan tau batas” dalam hati kujawab “biasalah” O aja yakan pemirsah!. Lalu kujawab dengan pepatah dari Mak Lampir komplit dengan suara dan nadanya yang khas “jika kau sendiri tidak mau dijahati janganlah berbuat jahat, jika kau tidak ingin disakiti janganlah menyakiti” Cuma sayangnya akutu gabisa ketawa ala Mak Lampir yang juga wanita (baca: wagu) itu. Pokonya sudah kubilang cewek, wanita, perempuan, woman, itu wagu.

Apalagi yang sering gembar-gembor kesetaraan gender itu, kurang setara apalagi kan? Semua wanita bisa bekerja, bisa bersekolah, bisa jadi presiden, ada juga yang berprofesi jadi tukang tambal ban. Bukankah ketika dia bisa menyuarakan argumentasinya dengan lantang dan menggelegar itu artinya kita (LK dan PR) sudah setara dalam aspek berpendapat, misalnya.

Tidak sadarkah kalian para wanita bahwa kami para lelaki selalu mementingkanmu lebih dari diriku sendiri, eaaa. Bukankah permintaan penyetaraan sama dengan permintaan turun derajat ? Serius? Kita gak masalah kok kalau kalian mau, kalian saja yang bekerja kami para lelaki yang mengurus rumah sambil momong anak, misal. Malah kami senang, serius lho.

Sudahlah hentikan kewaguan dalam bentuk apapun itu, bukankah cukup kita saling mencintai dan memahami. Gausahlah pakai kode-kodean, kita kan gak lagi pramukaan yang pakai sandi morse, apalagi sandi rumput tetangga, dan jangan sampai sandi agauno ikut dibawa-bawa pulak. Sekali lagi, cukuplah kita saling mencintai, memahami dan menyayangi, seperti halnya petani kedelai yang menyayangi malika bagai anak sendiri. Tolong, sudahi kewaguan ini.

kalantur.com

Akhnan

Calon Presiden yang hobi nulis, sekaligus calon menantu dari calon mertuaku yang entah dimana berada

828 thoughts on “Bukti Nyata Bahwa Wanita Itu ‘Wagu’