Bukan Salah Wanita !

Harta, tahta dan wanita, begitulah hidup kawan. Sudah bukan rahasia lagi kiranya, bahwa keadilan sosial bagi seluruh rakyat glowing dan goodlooking itu nyata. Sebagai seorang yang non-glowing dan hanya bermodalkan karisma —motor bebek keluaran Honda tahun 2002— seperti saya. Sudah sepantasnya menyadari dan memaklumi situasi dan kondisi di era industri ini. Halah!

Maksud saya begini, terlampau sering kita mengkambing-hitamkan subjek yang sebenarnya adalah korban di dalam suatu duduk perkara. Coba mari kita analisis sejenak. Dalam jual beli kecantikan ini, siapa yang dipaksa (menjadi korban) siapa yang diuntungkan, dan siapa yang sekedar terbawa arus atau mau tidak mau harus mengikuti.

Tundukkan kepala, mari kita renungkan sejenak. “Wahai kaum adam! siapakah diantara kamu sekalian yang tidak suka menyaksikan paras glowing dan goodlooking?”.

Maka sadarlah klanters!, justru pada posisi ini kaum adam inilah yang diuntungkan, terlepas dari pembahasan zina mata tentunya. Meskipun ada yang sering mengaku, “aku lebih suka cewek yang natural kok”. halah entut!.

Saya paham, yang anda maksud natural itu; cantik, putih, bersih, yang gak memalukan diajak kondangan, yang bisa dipamerkan, yang semlehoy ulala uyee. Mbelek jaran!

Tapi na’asnya, kemudia kaum antum dan saya ini terjebak dalam situasi yang kian rumit. Dari melihat situasi dan kondisi mata lelaki ditambah maraknya Open BO (Bimbingan Orangtua), mungkin. Akhirnya muncullah berbagai varian skincare yang diluncurkan oleh kapitalis kosmetik, wajar kan bisnis gitu loch!, dimana ada peluang disitu ada uang. Permintaan naik karena iming-iming glowing, maka penawaran akan turun guna menaikkan harga!. Begitulah ekonomi perpasaran duniawi.

Jika dilihat dari runtutan kronologisnya. Produsen kosmetik disini tidaklah salah jika dilihat dari perspektif ekonomi syariah kapitalis. Disinilah antum terjebak wahai kaum adam!. Ketika kebutuhan akan pengeluaran guna mempercantik diri bagi kaum hawa melejit, maka selektifitas mereka untuk memilih lelaki yang berpenghasilan guna mencukupi kebutuhan akan pengeluaran yang kian mehong menjadi lumrah. Gausah protes!

Maka sebetulnya yang menjadi korban disini, adalah ciwi-ciwi. Tampil cantik dikira tebar pesona. “Heiheihei, gak semua yang suka selfi terus numpang pap wajah di trending twitter itu open BO ya cuuuk”.

Yang gak pinter macak dibilang buluk jadi insecure. Cari yang mapan untuk bisa memenuhi kebutuhan penampilan dibilang matre. Nerima kamu apa adanya dicurigain dah gak perawan. Asudahlah, intinya semuanya salah lelaki!

Akhnan

Calon Presiden yang hobi nulis, sekaligus calon menantu dari calon mertuaku yang entah dimana berada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.