Banjarmasin Dan Raja Yang Melarikan Diri – Bagian 1

Hello sobat klanters semua, kembali lagi kita bertemu di rubric sejarah kalantur.com. kali ini, kita akan berlayar ke Banjarmasin untuk mengulik Sejarah kerajaan Banjarmasin. Kira-kira bagaimana berdirinya dan kehidupan Kerajaan Banjarmasin, langsung saja cus ah.

Kisah ini dimulai pada awal tahun 1450, di masa untuk kali pertama, daerah Banjarmasin dipimpin oleh seorang raja. Adalah Pangeran Suria Nata, raja pertama Banjarmasin yang berkedudukan di Candi Agung. Suria Nata mempunyai seorang permaisuri bernama Puteri Junjung Buih.

Dalam pernikahan nya, Pangeran Suria Nata dan Puteri junjung Buih, telah mendapatkan tiga orang putra yang masing-masing bernama Pangeran Aria Wangsa, Pangeran Suria Wangsa dan Pangeran Suria Gangga Wangsa. 

Baca Juga : Cahaya Islam Putri Dewata

Larinya Sang Raja

Kejadian yang aneh terjadi setelah 10 tahun Suria Nata memimpin Banjarmasin. Tepatnya pada tahun 1460, tiba-tiba Suria Nata beserta permaisurinya, Putri Junjung Buih, dan dua orang putranya, Suria Wangsa dan Suria Gangga Wangsa, menghilang dari kerajaan tanpa sebab yang jelas.

Akibatnya, Kerajaan Banjarmasin mengalamai Vacum of Power. Yakni keadaan di mana sebuah kerajaan atau Negara mengalami kekosongan kekuasaan. Kebingungan pun menyelimuti kerajaan. Akhirnya, pilihan jatuh kepada putra sulung Suria Nata, Pangeran Aria Wangsa, yang tersisa di kerajaan. (dalam sejarah, ditulis bahwa Pangeran Aria Wangsa memerintah hingga tahun 1505)

Pangeran Aria Wangsa sendiri, menikah dengan Puteri Kabuwaringan dan telah mempunyai seorang putera yang bernama Raden Sekar Sungsang. Entah kenapa, kelahiran putera Aria Wangsa tersebut tidak memberikan kepuasan bagi sang Ibunda, Puteri Kabuwaringin.

Dengan alasan yang tak jelas, Permaisuri Aria Wangsa itu seakan menyesal telah melahirkan Sekar Sungsang. Bahkan, karena hal yang tak jelas itu, sang Ibunda sering berbuat kejam kepada puteranya sendiri.

Kekejaman sang Ibunda akhirnya berakibat kepada kaburnya Raden Sekar Sungsang dari kerajaan. Sekar Sungsang yang kala itu masih berusia remaja, melarikan diri ke tanah Jawa dengan menggunakan perahu layar milik salah saeorang juragan.

Di Jawa, ia banyak menimba ilmu. Bahkan, usai beberapa tahun ia tinggal dalam pelarian, Raden Sekar Sungsang dinikahkan oleh seorang juragan dengan putrinya. Seorang anak laki-laki pun lahir dari pernikahan keduanya. Anak tersebut bernama Raden Panji Sekar.

Pada suatu ketika, Raden Sekar Sungsang bersama anaknya, Raden Panji Sekar, melakukan pengembaraan. Dalam perjalananya, mereka sampai pada sebuah kearajaan di bawah pimpinan sunan Giri. Akhirnya, mereka memutuskan untuk menetap di kerajaan tersebut. Raden Sekar Sungsang dan anaknya, menetap cukup lama di kerajaan Sunan Giri. Hingga Panji Sekar beranjak dewasa dan menjadi menantu Sunan Giri. Setelah pernikahannya dengan putri Sunan Giri, Panji Sekar diberi gelar Sunan Serabut.

To Be Continue…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.