Balada Cito-Citi : Gampang Sayang, Gampang Kangen

Judul buku          : Balada Cito-Citi : Gampang Sayang, Gampang Kangen

Genre                   : Novel Remaja

Tebal                     : 132 halaman

Penulis                 : Edi AH Iyubenu

Hello Sobat Klanters ! lama tak jumpa, kangen ea ? – geer dikti gapapalah hihi. Kali ini ane pingin ngebahas satu novel yang meskipun tak se-fenomenal Ayat-ayat Cinta atau Ketika Cinta Bertasibih-nya Kang Abik, tapi novel yang kata penulisnya ra cetho ini sungguh nikmat dibaca dan banyak memberi ane pelajaran.

Sebelum ngebahas isi cerita novel  ra cetho yang satu ini, tak kenallin dulu sama penulisnya sedikit aja – kalo ada waktu tak bahas secara personal dah heuehu. Penulis Novel yang berjudul ‘Balada Cito-Citi : Gampang Sayang Gampang Kangen’ ini adalah Owner dari Kafe Mainmain di jogja. Pria asal Madura yang kini telah berkeluarga dan tinggal di Jogja – tepatnya kapan-kapan aja biar kepo.

Adalah Edi Mulyono alias Edi AH Iyubenu. Penulis yang sangat produktif dan telah melahirkan berbagai macam tulisan dari tangan-tangan saktinya. Meskipun dirinya menyebut Novel ini ra cetho, namun cirri khas tulisan aslinya tak hilang di dalamnya. Yakni memasukkan berbagai kajian-kajian dalam khazanah islam.

Pada dasarnya, premis dari Novel ini sangatlah ringan, seperti halnya Novel remaja lainnya. Yaitu soal masalah percintaan Muhammad Toha alias Citogog alias Cito. Pemuda yang kesehariannya tinggal dan bekerja di kafe Mainmain ini adalah seorang jomblowan sejati yang telah berusia matang pohon.

Lama di pesantren dan kini menginjak usia yang tak belia lagi, Cito dituntut untuk segera menikah oleh mamaknya yang merantau nun jauh di papua. Kombinasi antara Cito yang tahan banting puasa karena lebel cah dalail (tirakat puasa nahun ala pesantren) nya, dengan psikisnya yang gampang tergores dan terkikis, membuat intrik kisah yang dituliskan dalam novel ini begitu menarik dan menggelikan.

Ditambah dengan gaya penulisan yang ringan, serta komedi-komedi yang menggambarkan keseharian Edi, Cito, Arko, Alfin, Daruz dan Edoy di Kafe Mainmain, menjadikan tulisan ini begitu renyah untuk dibaca. Sebab guyonan yang ditayangkan begitu akrab dalam lingkungan ane khususnya.

Inti dari novel ini bermula saat semesta mempertemukan Cito dengan seorang gadis berparas ayu, cerdas, mapan, sekaligus putri dari salah seorang kiai bernama Citi. Cito yang memiliki kepedean tingkat dewa,gampang sayang sekaligus gampang kangen dan jiwa yang mudah tersentuh, langsung dibuatnya mabuk kepayang.

Dengan mengerahkan segala upaya, ia berikrar bahwa Citi adalah perempuan yang diutus semesta untuk dirinya. Namun, Citi yang juga memiliki komitmen soal percintaan yang ta semestinya tas-tes tanpa ita-itu melainkan harus juga mengalir dengan segala fafifu di dalamnya, tak serta merta menerima Cito begitu saja.

Hal inilah yang kemudian membuat Cito gelimpangan tak karuan. Di satu sisi, ia merasa bahwa Citi adalah takdirnya, di sisi lain ia bingung dengan perasaan Citi terhadapnya.

Di sisi lain, Citi yang juga sebenarnya memiliki perasaan terhadap Cito, pun memiliki kekhawatiran, apakah benar Cito ini lelaki yang tepat. Dengan melihat keadaan dan tingkah laku Cito yang kadang bikin ane ngeplak jidat.

Edi, selaku orang tua Cito di Kafe, melihat keinginan kuat Cito yang juga tertekan oleh mamaknya untuk segera menikah, berusaha untuk menyatukan keduanya. Dirinya selalu memposisikan diri sebagai tameng saat Cito berada dalam posisi sulit di hadapan Citi.

Yang paling membuat menarik dari Novel ini adalah kemasan dan latar daripada kisah ra cetho ini. Meski ditulis dengan bahasa yang sedikit vulgar, ngeres, serta penuh pisuh-pisuhan, namun tak sedikit pula ushul fiqih dan syariat di masukkan ke dalam cerita. Inilah yang menjadi kekaguman saya terhadap penulisnya.

Penggabungan antara percintaan, komedi yang ringan, pisuhan-pisuhan, persahabatan, dan kajian islam, mampu diracik dengan begitu sempurna menjadi sebuah kisah yang menakjubkan.

Lalu bagaimana kisah cinta Cito dan Citi ?

Tunggu dulu, sabar, Novel ini, masih punya sekuel kedua, jadi akan ane bahas di tulisan selanjutnya,,, hehe

See you next time

“see you ? emang kita ketemu ?” – anggap saja begitu heuehu

Fine

Santri Tua yang belum kunjung menemukan pasangan hidup

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.