Alternatif Dialektis: sebuah paradigma baru

Paradigma pada dasarnya adalah cara pandang seseorang atau kelompok dalam melakukan sebuah pendekatan sosial untuk menentukan arah gerakan. Sehingga terciptalah sebuah desain identitas pribadi atau kelompok dalam kompleksitas kehidupan sosial yang heterogen.

Bukanlah sebuah hal tabu bagi seseorang mengubah cara pendangnya untuk menyesuaikan kondisi sosial yang selalu berubah-ubah. Paradigma berbeda dengan ideologi. Ideologi sendiri adalah sebuah gagasan pokok berisi nilai-nilai luhur sebagai batu asah pemikiran yang baku kedudukannya.

Dalam sejarah PMII, kita mengenal 3 (tiga) paradigma yang pernah disahkan dan diamalkan oleh kader-kader PMII. Pertama Paradigma Arus Balik Masyarakat Pinggiran , 1994-1997 pada masa kepemimpinan Muhaimin Iskandar (cak imin). Paradigma tersebut dinilai sukses membawa kader PMII menjadi aktivis kritis yang mampu menghadapi gejolak orde baru,

Kemudian munculah Paradigma Kritis Transformatif (PKT), pada periode kepengurusan Syaiful Bahri (1997-2000) mematangkan perlawanan kader dengan konsep pemikiran kritis yang radikalis-konservatif (berbeda dengan eksklusivisme) sehingga memungkinkan kader PMII untuk mewujudkan transformasi yang (diharapkan) Ideal.

PKT menemui dilema ketika KH. Abdurrahman wahid (Gusdur) terpilih menjadi presiden RI ke-4 tahun 1999. Gusdur yang notabene adalah pembesar NU sekaligus simbol perjuangan masyarakat pinggiran kini menduduki puncak kekuasaan, muncul pertanyaan, “Kemana perlawanan kritis ditujukan? “.

Berjalannya waktu aktivis kritis anti tirani mulai menumpul bersama banyaknya kader PMII yang naik tahta pemerintahan. Dengan kata lain PKT sudah tidak lagi relevan. Kemudian paradigma terakhir yang kita kenal dicetuskan pada masa kepemimpinan Heri Haryanto Azumi periode 2005-2008, dikenal dengan Paradigma Menggiring Arus, Berbasis Realitas.

Paradigma ini kebalikan dari paradigma arus balik masyarakat pinggiran dan sebagai pembaharuan paradigma yang tidak lagi bisa mengkritisi kekuasaan secara frontal, melihat realitas bahwa banyaknya kader senior PMII yang berpartisipasi aktif dalam kontestasi politik kekuasaan pemerintahan.

Tentu sudah sepatutnya ber-khusnudhon bahwa mereka (para senior) masih memegang erat “komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan indonesia”. Namun, muncul pertanyaan, “kemana arus akan digiring/diarahkan?”, “untuk kepentingan siapa?”, “akan pro dengan siapa dan kontra dengan siapa? “. paling tidak inilah pertanyaan-pertanyaan destruktif terhadap paradigma penggiringan arus ini, sehingga menjadikannya tertolak.

Melihat banyaknya pihak yang berpedoman pada idealitas golongannya yang meskipun dengan khusnudhon (semua memiliki tujuan yang baik). Namun tidak dapat dipungkiri bahwa ada perbedaan sentimen yang fundamental sehingga mau bagaimanapun, paradigma penggiringan arus ini tidak akan daoat berjalan sesuai harapan. Lebih buruk justru akan menimbulkan gesekan-gesekan sosial dalam konteks dialektika sosial.

Untuk itu dalam rangka sumbangsih non-material, saya ingin menyampaikan sebuah gagasan paradigma baru PMII yang menurut saya relevan dengankonstruksi sosial saat ini. Tawaran saya adalah Paradigma Alternatif Dialektis.

Sebelum saya jelaskan lebih jauh apa dan bagaimana paradigma alternatif dialektis perlu diketahui bahwa, Indonesia saat ini dapat digambarkan sebagai kapal besar dengan banyak nahkoda. Begitu banyak variabel kepentingan yang mempengaruhi berjalanya kebijakan. Pro dan kontra yang tiada akhir, narasi-narasi subjektif sentimentil didengungkan, dipergunakan untuk membatasi pengambilan keputusan strategis.

Alhasil, ada dua sektor masalah yang perlu untuk diselesaikan. Pertama, terjadi ketidakpercayaan dan ketidakpatuhan awak kapal (pejabat pemerintahan) atau dengan kata lain disorientasi pokok pikiran pelaksana tugas pemerintahan. Kedua, kebingungan dan kecemasan rakyat sebagai penumpang sekaligus pemilik kapal.

Disinilah kader PMII perlu memposisikan diri. Menegaskan fungsinya sebagai agent of sosial control dengan kedewasaan berpikirnya menjadi penyeimbang / stabilizer gejolak sosial yang terjadi.

Selanjutnya perlu dipahami bagaimana dan apa itu Paradigma Alternatif Dialektis. Alternatif maksudnya kader PMII sadar betul bahwa konflik terjadi dari adanya perbedaan sudut pandang dan gagasan antara dua pihak atau lebih. Maka sudah sewajarnya dg wawasan dan kedewasaan berfikir, kader PMII harus menemukan solusi alternatif yang dapat diterima kedua belah pihak dengan melakukan analisa pokok permasalahan secara hati-hati, cermat, dan teliti

Kemudian dialektis, artinya kader PMII harus paham betul bahwa solusi alternatif yang diperoleh tidak serta-merta dapat diterima oleh kedua belah pihak dengan mudah. Harus ada upaya komunikasi / lobbying untuk menghindari munculnya problem baru yang tidak diperlukan.

Perlu diingat alternatif harus disampaikan atau didiskusikan dengan baik, karena adanya alternatif solusi bukanlah untuk memunculkan golongan baru dengan pemikiran yang berbeda, melaikan untuk kepentingan bersama (mufakat). Upaya dialektis tentunya dilakukan sesuai ranah kader sehingga tercipta kondusifitas, dan problematika sosial ditiap level bisa diatasi secara komprehensif.

Akhnan

Akhnan

Calon Presiden yang hobi nulis, sekaligus calon menantu dari calon mertuaku yang entah dimana berada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.