Al Hikam – Bait/Mutiara/Hikmah 1

Dengan rahmatullah dan demi Pena beserta apa yang telah dituliskan para ulama. Udah keren belum pembukaannya kawan klanters? ~hehe. Melanjutkan tulisan sebelumnya mengenai Al-hikam dg pembahasan “sekapur sirih Al-Hikam”. Mulailah kita masuk kepada pembahasan hikmah atau sebagai orang jawa kita saya menyebutnya “wejangan” dari Al ‘arif Billah Ibnu Athoillah As-sakandary. hikmah ingkang sepindah (baca:pertama):

مِنْ عَلاَ مَةِ اْلاِعْـتِــمَادِ عَلَى الْعَمَلِ، نُقْصَانُ الرَّجَاءِ عِنْدَ وُجُـودِ الزَّ لــَـلِ

Artinya: setengah dari (baca:sebagian) tanda-tanda orang yang bergantung atas —pada— amalnya, terkikisnya pengharapan kepada Allah ketika khilaf —melakukan kesalahan.

Penjelasan

Maksud dari kalimat hikmah tersebut ialah, orang-orang yang bergantung pada amalnya (bukan kepada rahmat —belas kasih Allah) akan mudah putus asa dari rahmat Allah ketika ia melakukan kesalahan atau maksiat. Sebagaimana Mbah soleh darat mencontohkan dalam kitab matan hikamnya:

Ketika seseorang melakukan maksiat kemudian di dalam hatinya berucap —sengaja atau tidak— “aku pasti akan mendapat siksa neraka karena maksiat ini, dan allah pasti tidak akan mengampuniku”

Pada dasarnya manusia tidak pernah lepas dari dosa, segaja atau tidak. Nyatanya, kita hanyalah manusia biasa, berbeda dengan Rasulullah SAW yang memang ma’sum —lepas dari perbuatan dosa. Boleh kita merasakan takut ketika melakukan kesalahan, tapi ketahuilah bahwa ampunan dan kasih sayang Allah ta’ala lebih besar dari dosamu yang mungkin bagi Allah tidak seberapa.

Ketahuilah bahwa apapun yang terjadi di dunia tidak lepas dari sifat Qohar Allah SWT. Ketika seseorang melakukan maksiat takutlah karena Allah menimpakanmu —membuatmu bisa— berbuat maksiat. Artinya, ketika Allah membiarkanmu melakukan maksiat, khawatirlah karena Allah tidak melindungimu dari berbuat maksiat. Bisa jadi itu bagian dari Kode Allah untukmu agar lebih mendekat kepadanya. Bukan malah putus asa ya kawan!

Dan perlu diingat juga, ketika seseorang berada dalam keta’atan janganlah menjadi sombong karenanya. Pahamilah bahwa ke-bisa-anmu dalam ta’at kepada Allah ialah semata-mata atas se-ijin Allah itu sendiri. Dan janganlah berfikiran karena ketaatan (ibadahmu) itu yang menjadikanmu masuk syurga. Melainkan itu semua kembali kepada hak prerogatif Allah.

Baca Juga : Ushfuriyah Hadits Kedua

Untuk Apa Beribadah ?

Jika muncul pertanyaan “lalu untuk apa aku beribadah jika bukan karena ibadahku aku masuk surga?”

Dijelaskan bahwa, manusia itu tercipta memang gandrung akan maksiat. Inginnya enak terus-terusan, foya-foya dan hura-hura, bucin, micin, pingin pinter tapi mager. Karena manusia memiliki nafsu yang memang sulit untuk mengendalikannya. Jika dalam keadaan tersebut manusia bisa ta’at kepada Allah, itulah kenikmatan tersendiri dari Allah yang wajib untuk disyukuri.

.

Sekali lagi, bisanya kita ta’at ya karena Allah lah yang menjadikan kita bisa ta’at

Masih tanya “untuk apa ibadah”?

Mbah Sholeh darat menjelaskan “tanda-tanda orang yang Allah sayang adalah orang yang di anugrahkan untuk ta’at kepada Allah” sedangkan “tanda-tanda murka allah adalah maksiat”. Maka bersegeralah minta ampun ketika melakukan kesalahan, dan bukannya malah putus asa. Rahmat (kasih sayang) Allah untuk seluruh alam.

Sekarang klanters, jika ada yang bilang “orang yang udah terlajur kotor/hina kayak aku emang masih ada harapan?” tau kan gimana ngejelasinnya?. Jangan kaget ketika ada kyai atau ustad dakwah di diskotik, tempat lokalisasi, DLSB (dan lain sebagainya). Karena setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk menggapai rahmatullah.

Bukanlah surga tujuan kita, Allahlah tempat kita kembali. Jangan kesasar! Surga hanya bingkisan hadiah dari yang Terkasih untuk hambanya yang dikasihi.

Akhnan

Calon Presiden yang hobi nulis, sekaligus calon menantu dari calon mertuaku yang entah dimana berada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.