3 Alasan Kenapa Aku Mulai Menulis

            Menulis adalah pilihan bagiku untuk bagaimana menikmati hidup. Ada kesenangan tersendiri dalam tiap proses menghabiskan tinta. Seolah aliran waktu mengalir bersama tinta yang kugoreskan. Artinya dengan menulis aku mengontrol waktu dalam kehidupanku. Semua orang, aku, kamu, bahkan dia, dan klita semua hidup di bumi yang sama, memiliki kapasitas aliran waktu yang sama. Tapi tak semua dari kita punya kendali atas waktu. Bahkan saat ini, di waktu ketika aku menuliskan tulisan ini, atau di waktu ketika dirimu sedang membaca ini banyak yang sedang hanyut, kalah dengan arus waktu. Bahkan mungkin dirimu yang sedang hanyut di waktu aku sedang mengendalikannya dengan tintaku.

            Ditemani pancake pisang keju tanpa coklat, saya menuliskan ini. Kalimat pertama yang kutulis adalah “Mulai menulis”. Entah sejak kapan, kalimat tak sempurna itu sudah menjadi ritual bagiku untuk mulai menggerakkan tangan dan fikiranku untuk fokus. Mungkin tiap orang memiliki alasan berbeda untuk menjawab pertanyaan “Mengapa Menulis?” sebuah pertanyaan sederhana namun terdengar sangat filosofis. Bahkan aku tak yakin akan memberikan jawaban yang sama berulang ketika pertanyaan tersebut terlontar padaku berikutnya. Bukan karena tak jujur dan bukan karena jawaban yang mengada-ada. Hanya saja ada terlalu banyak alasan, atau dengan kata lain hampir tidak ada alasan untuk tidak menulis. Correct me if I’m wrong.

            Menulis bagiku ajaib, praktis, sekaligus menantang. Tiga kata yang tak berkorelasi sama sekali, yang terkesan wagu (aneh) untuk mendeskripsikan sesuatu secara bersamaan, tapi tidak, sungguh. Ajaib yang kesannya imajiner, praktis alias gak ribet dan menantang yang berkaitan dengan adrenalin, it’s all about writing.

1. Menulis itu Ajaib

           Ada perasaan yang susah dijelaskan ketika menulis. Saat menulis seolah ada ruang tercipta di sekeliling yang nyaman. Bukan aku menciptakan ruang nyaman untukku menulis, tapi dengan menulis itu sendiri aku mendapatkan kenyamanan.

2. Praktis

Ya, praktis, cukup dengan pena dan buku, atau dengan aplikasi note bawaan dari smartphone, atau mungkin dengan laptop jika tak keberatan membawanya. Meski lebih asik bagiku menulis dengan pena dan buku. Di manapun, kapanpun, selama otak dan jemari sehat wal’afiat, it’s okay to writing.

3. Menantang

            Menantang? Yah, sangat. Bahkan lebih menantang daripada memikirkan topic pembicaraan dengan gebetan. Untuk gebetan kita hanya perlu memikirkan bahasan untuk seseorang yang sudah jelas siapa yang dituju. Menulis perlu memutar otak agar menjadi sebuah tulisan yang minimal bisa terbaca agar pesan tersampaikan, bukan hanya oleh satu kepala melainkan untuk kepala-kepala yang bahkan belum pernah kita kenal sebelumnya. Karena alasan itu dan banyak alasan lainnya yang tentu akan rumit untuk menjelaskannya, Saya mulai menulis, maka temukan sendiri alasanmu untuk menulis.

            “Mulai Menulis” seperti yang kukatakan, kalimat ini tidak sempurna, tepatnya masih belum sempurna. Untuk menyempurnakannya, bukan dengan ditambahi kata keterangan di belakangnya sehingga menjadi lengkap. Masalahnya bukan pada apa yang kamu tulis, atau apa yang akan ditulis. Karena itu semua tak lebih hanya akan menjadi sekedar kata-kata. Mulai menulis jangan hanya menjadi sebuah kata-kata rencana. Lakukanlah agar “Mulai Menulis” mu menjadi sempurna. Start writing!

kalantur.com

Akhnan

Calon Presiden yang hobi nulis, sekaligus calon menantu dari calon mertuaku yang entah dimana berada

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.